TEKNIS

TEKNIS (55)

Penyakit Malleus disebabkan oleh bakteri  Pseudomonas mallei .Bakteri ini adalah bakteri gram negatif,berbentuk batang,aerobik,bergerak dan tidak berspora.Penyakit ini yang umumnya sering terjadi pada kuda dan dapat dityularkan kemanusia atau sebaliknya (penyakit zoonosis). Gejala klinisnya yaitu demam (41˚ C),keluar nasal discharge (ingus) yang kental dari hidung .Ditemukan nodul dan ulcus di hidung paru-paru sehingga mengganggu pernapasan.Pada kulit nodul-nodul berada disepanjang pembuluh lymphe Penyakit dapat menimbulkan kematian .Pada kuda dapat terjadi secara khronis.    Pencegahan penyebaran penyakit  dapat dilakukan dengan memusnahkan hewan tersangka serta isolasi dan menyemprotkan desinfektan pada area yang tercemar.Pengobatan dengan antibiotik kurang efektif.Sulfadiazine dengan dosis 66mg/kg berat badan diberikan secara intra vena aau oral selama 20 hari dapat menyembuhkan penyakit ini.

     Memelihara ikan hias sudah menjadi hobi masyarakat kita khusus untuk ikan Arwana memerlukan pakan yang kusus yang hidup yaitu diantaranya yang dikenal masyarakat dengan nama ulat Jerman ,ulat Hongkong.Ulat –ulat ini sebenarnya peka sekali terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Sp. Gejala klinis pada ulat(larva) Superworm adalah warna coklat cerah (Tanda sehat) berubah menjadi lebih gelap kemudian hitam.Ulat(Larva) yang mula –mula lincah bergerak menjadi kurang lincah kemudian tidak bergerak (mati). Apabila ulat tersebut sudahada  terjangkit sebaiknya ulat ulat tersebut dimusnahkan karena sifanya yang zoonosis.untuk pencegahan pada ulat dapat diberikan

Obat sulfa atau antibiotik dengan mecampurnya kedalam pakan larva/kumbang tersebut (polar atau dedak) dengan dosis untuk Sulfa 1gr/kg pakan(polar atau dedak) ,untuk Doxycicline dengan dosis 2gr/kg pakan ,Chlortetracycline  dengan dosis 1gr/kg pakan Disamping itu harus diterapkan tindak biosekuriti yang ketat pada peternakan  ulat Superworm.

Kata kunci:Penyakit Malleus,zoonosis Larva Zoophobas morio

I. Pendahuluan.

     Pendapatan  masyarakat Indonesia semakin meningkat  setiap tahunnya sehingga kebutuhan sekunder merupakan keharusan dalam kehidupan sehari-hari,bahkan “mengkudeta” keinginan kita yang lainnya  .Hal tersebut antara lain memelihara hewan kesayangan apakah itu anjing ,kucing bahkan hewan atau satwa yang nampak aneh seperti bermacam- macam reptil dan juga berbagai jenis ikan yang dipelihara dalam aquarium,semuanya membutuhkan tidak sedikit uang.Namun demikian pengetahuan mereka tentang satwa masih terbatas apalagi penyakit yang mungkin dibawa poleh satwa tersebut.Dengan kurangnya pengetahuan mereka ini maka merupakan  peluang untuk beramal  bagi insan pertanian baik Penyuluh Pertanian maupun Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner.

II.Penyakit Malleus.

     Penyakit Malleus atau Glanders atau Farcy disebabkan oleh bakteri  Pseudomonas mallei .Bakteri ini adalah bakteri gram negatif,berbentuk batang,aerobik,bergerak dan tidak berspora.

    Penyakit ini sering ditemui pada kuda dan juga menyerang hewan berkuku lainnya,,canivora dan penularannya melalui sentuhan dan saluran pernapasan.Penyakit ini juga menyerang manusia (zoonosis)

    Gejala klinisnya yaitu demam (41˚ C),keluar nasal discharge (ingus) yang kental dari hidung .Ditemukan nodul dan ulcus di hidung paru-paru sehingga mengganggu pernapasan.Pada kulit nodul-nodul berada disepanjang pembuluh lymphe .Penyakit dapat menimbulkan kematian .Pada kuda dapat terjadi secara khronis.

    Pencegahan penyebaran penyakit  dapat dilakukan dengan memusnahkan hewan tersangka serta isolasi dan menyemprotkan desinfektan pada area yang tercemar.Pengobatan dengan antibiotik kurang efektif.Sulfadiazine dengan dosis 66mg/kg berat badan diberikan secara intra vena aau oral selama 20 hari dapat menyembuhkan penyakit ini (Siegmund ,Otto H. 1979).

Skema cara kerja obat sulfa:

 

PABA                Dyhidrofolic Acid             Tetrahydrofolic Acid                 Purin               DNA

 

      Sulfonamide                               DAP

     (Menghambat )                       (Menghambat ) 

 

    Bakteri berkembang biak melalui pembelahan diri,untuk itu memerlukan bahan makanan yang disebut PABA (Para Amino Benzoic Acid).PABA diubah oleh bakteri menjadi Dyhidropfolic Acid dan kemudian menjadi Tetrahydrofolic Acid kemudian diubah lagi menjadi Purin.Purin untuk DNA protein bakteri yang dibutuhkan untuk membelah(memperbanyak) diri.Kelompok Sulfonamide daya kerjanya menghambat perubahan PABAmenjadi Dyhidrofolic Acid. DAP daya kerjanya menghambat perubahan Dyhidrofolic Acid menjadi Tetrahydrofolic Acid. Sulfonamid dan DAP daya kerjanya bacteriostatic (menghambat Sulfonamide dan DAP digabung daya kerjanya menjadi bacteriocide (membunuh ) bakteri Apabila kelompok sulfonamide (Sulfadiazine,Sulfadimidine,Sulfaquinoxaline digabung dengan kelompok sulfa yang lainnya yaitu Diaminopyrimidin (DAP) yaitu Trimetroprim,Diaverdin,Pyrimethamin maka dapat membunuh bakteri.tersebut (Mariana dan Setiabudy 2005)

III.  Penyakit Malleus dapat berada diruang tamu anda.

       Memelihara ikan hias sudah menjadi hobi masyarakat kita khusus untuk ikan Arwana memerlukan pakan yang kusus yang hidup yaitu diantaranya yang dikenal masyarakat dengan nama ulat Jerman ,ulat Hongkong.Ulat –ulat ini sebenarnya peka sekali terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Sp.

     Berawal dari Penulis yang akan membuat penelitian untuk orasi ilmiah ,kebetulan disekitar tempat tinggal Penulis ada peternak ulat Jerman  tersebut dan terkena wabah penyakit dengan tingkat kematian yag tinggi sekali.Kasus ini Penulis angkat menjadi bahan penelitian untuk orasi ilmiah,Pertama –tama .Untuk mengetahui penyebab penyakit maka u- lat yang sakit dikirim ke Balai Besar Penelitian Veteriner untuk dketahui penyebab penyakit tersebut.Hasilnya diketemukan bakteri Pseudomonas Sp yaitu Pseudomonas aeruginosa,Pseudomonas pseudomallei,Pseudomonas mallei  .

   Ulat yang diteliti ini oleh masyarakat kita disebut ulat Jerman sebenarnya adalah ulat yang berasal dari benua Amerika dan dikenal dengan ulat Superworm,jadi bukan dari Jerman Ulat ini sebenarnya adalah larva dari kumbang Zophobas morio.Klasifikasi kumbang  sbb: Phylum: Arthropoda.Ordo:Coleoptera. Class:Insecta,Family:Tenebremidae. Genus Zophobas .Species :Zophobas morio

Siklus hidup  Zophobas morio.

                                                               Telur

                  Kumbang Dewasa                          

                                                                                    Larva

                   Kumbang Muda                    Pupa

             

Kumbang dewasa bertelur, setelah 12 hari telur menetas menjadi larva mini , larva Kecil,larva medium kemudian menjadi larva besar. Larva besar menjadi pupa.Umur larva mulai dari yang kecil sampai dengan larva besar sekitar 2,5 bulan. Larva besar 2 minggu kemudian berubah menjadi pupa. Pupa 2 minggu kemudian  berubah  menjadi kumbang muda (warna putih ). Kumbang muda 2 hari kemudian menjadi kumbang dewasa (warnanya hitam).

1

 

Atas: Larva Superworm . Tengah: Pupa  . Bawah: Kumbang dewasa

 

Gejala klinis pada ulat(larva) Superworm adalah warna coklat cerah (Tanda sehat) berubah menjadi lebih gelap kemudian hitam.Ulat(Larva) yang mula –mula lincah bergerak menjadi kurang lincah kemudian tidak bergerak (mati).2

Larva Superworm yang sakit

 

    Dalam penelitian Penulis dilakukan perlakuan pengobatan dengan obat sulfa ( Campuran antara Sulfadiazine dan Trimethoprim) dengan dosis 1igr/kg pakan ,antibiotik Doxycicline dengan dosis 2 gram /kg pakan ,antibiotik Chlortetracycline dengan dosis 1 gram/kg pakan.Pakan yang digunakan ialah polar kemudian untuk minumnya diberikan pepaya muda .Larav dan kumbang akan meghisap cairandari pepaya muda tersebut.Dari hasil penelitian tersebut ternyata obat kelompok Sulfa lebih baik dari kedua antibiotik tersebut sedangkan antara kedua antibiotik tersebut tidak berbeda hasilnya (Racangan penelitian adalah RAL dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil atau The least Significant Difference)..

 

    Larva Superworm yang sakit patut diduga oleh Pseudomonas mallei. Aquarium yang ada diruang tamu anda kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri Pseudomonas mallei bila ikan Arwana /hias  diberikan pakan dengan larva Superworm yang sakit .

 

IV.Penutup.

 

    Berdasarkan hasil Penelitian tersebut sebenarnya penyakit pada larva Superworm yang disebakan oleh Pseudomosnas Sp tersebut dapat diobati dengan Sulfa maupun antibiotik namun adanya Pseudomonas mallei yang zoonosis(menular kemanusia maka disarankan larva yang sakit tersebut dimusnahkan saja. Obat sulfa atau antibiotik dapat digunakan untuk pencegahan dengan mecampurnya kedalam pakan larva/kumbang tersebut (polaratau dedak) dengan dosis untuk Sulfa 1gr/kg pakan(polar atau dedak) ,untuk Doxycicline dengan dosis 2gr/kg pakan ,Chlortetracycline  dengan dosis 1gr/kg pakan .Disamping itu harus diterapkan tindak biosekuriti yang ketat pada peternakan  ulat Superworm.

 

V. Daftar pustaka.

 

Ganiswara,Sulistia G. Setiabudy,Rianto editor.2005 .Farmakologi Dan Terapi.Edisi 4.Jakarta          Bagian FamakologiFakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

Hidayat,Jusuf.2010.Kajian Keefektifan Antibiotik(Doxycicline dan Chlortetracicline)dan Sulfa   (gabungan Sulfadiazine dengan Trimethoprim) terhadap persembuhan infeksi Pseudomonas mallei dan pseudomonas picketii pada larva Superworm.Bogor :BBPKH Cinagara

 

Siegmund,Otto H,editor.1979.The Merck Veterinary Manual.fifth ed.Rahway,N.J.USA: Merck and Co Inc





 

      Penyakit Anthrax adalah penyakit endemis di Republik Indonesia beberpa kejadian yang dianggap luarbiasa yaitu penyakit Anthrax pada burung unta di kabupaten Purwakarta .sedangkan khusu di kabupatem Bogor beberapa tahun yang lalu sering terjadi kasus penyakit anthrax dikecamatan Gunung putri  ,Cariu ,Jonggol ,Sentul.

      Gejala yang khas penyakit anhtrax adalah perdarahan pada lubang kumlah (alami) seperti lubang hidung ,mulut anus,telinga dan alat kelamin.Gejala penyakit pada hewan/ternak ada dalam beberapa bentuk yang antara lain perakut,akut ,khronis. Gejala perakut nampak ternak/hewan sesak nafas,gemetar kemudian rebah dan mati. Kematian terkesan mendadak  karena ada perdarahan pada otak.Gejala perakut pada ternak sapi,kambing, domba dapat terjadi mendadak mati tanpa adanya gejala tersebut.Anthrax bentuk akut pada sapi,kuda,domba gejalanya mula demam bisa sampai 41,5 ˚C ,gelisah,depresi,sopor.sulit bernafas,denyut jantung frekuen(meningkat) dan lemah,kejang kemudian mati,khusus pada kuda ada gejala kolik,pada ternak yang laktasi akan berhenti dan pada yang bunting akan abortus selain itu ada gejala perdarahan dari lubang kumlah.Gejala yang khronis sering pada babi dengan gejala bengkak didaerah leher/tenggorokan, adanya infeksi sekitar lidah.

           Penyakit anthrax di kecamatan  Gunung putri  ,Cariu ,Jonggol ,Sentul Kabupaten Bogor dikatakan aneh karena apabila diadakan pencegahan dengan vaksinasi sering terjadi gejala post vaksinal yaitu ternak  berputar –putar lalu mati ,sedangkan untukm kecamatann yang lain bila divaksinasi dengan vaksin yang sama tidak pernah terjadi gejala post vaksinal tersebut. Untuk menanggulangi /mengobati gejala post vaksinal  Petugas dinas menyuntikan obat antihistamin misanya Deladryl).Untuk mencegah terjadinya gejala post vaksinal maka vaksinasi deberikan hanya setengah dosis(0,5 ml disuntikan Sc ) ,namun kekebalanya hanya sampai setengah tahun saja.dampak pemberian dosis setenga dari seharusnya maka sering terjadi kasus penyakit anyhrax di Kecamatan tersebut .Sekarang Dinas Peternakan kabupaten Bogor melakukan vaksinasi 2 x dengan dosis 0,5 ml dikecamatan tersebut sehingga kekebalandapat mencapai satu tahun.sekarang tidak pernah terjadilagi kasus anthrax dikecamatan tersebut.Gejala post vaksinal tersebut kemungkinan karena reaksi allergi bersifat individual akibat Inbreeding (perkawinan sedarah )

     Kata kunci:Penyakit Anthrax ,gejala post vaksinal   

I.Pendahuluan

      Kabupaten Bogor terletak di Provinsi Jawa Barat 60 Km kearah timur  dari Ibukota Jakarta.Kabupaten Bogor merupakan daerah endemis penyakit Anthraxhampir tiap tahun timbul kasus ini dan cukup memakan korban  manusia namun  beberapa tahun terakhir  ini sudah tidak terdengar lagi kasus penyakit ini . Selain itu pada awal bulan Agustus 1999 terjadi kematian burung unta dikecamatan Campaka Purwakarta yang juga merupakan daerah endemik penyaki Anthrax.Sumber penularan diduga dari tanah untuk daerah endemik ,kareana penyakit anthrax dapat bertahan selama 30 tahun dalam bentuk spora didalam tanah(Elies Lasmini 2001). Ada daerah lain di Indonesia yang juga dilaporkan adanya penyakit Anhtrax .

Dari beberapa daerah yang penulis ketahui hanya kabupaten Bogor yang penulis anggap aneh dalam penanggulangnnya.Oleh karena itu penulis harapkan adanya tanggapan dari rekan - rekan sejawat mengenai kasus ini.

II.Penyakit Anthrax

     Sebagaimana kita ketahui penyakit anthrax yang dikenal juga dengan nama Fievre Charbonneuse (bahasa Pernacis), Carbunco Bacteridiano (bhs Spanyol) , Milzbrand (bhs jerman) ,radang limpa (bhs Indonesia). Pernah populer di Cibinong (kab.Bogor ) sekitar tahun limapuluhan dengan nama Pesdar yang artinya kempes modar yang maksudnya apabila bisul anthrax kempes maka orang yang menderitanya modar(mati)

       Penyakit Antrax adalah penyakit bakterial yang disebabkan Bacilus anthracis  ,bakteri yang berbentuk batang berantai ,gram positif (dengan pewarnaan gam berwarna ungu/violet),bakteri diluar habitatnya (hostnya) berbentuk spora sehingga dapat bertahan hidup lama.

      Penularan penyakit ini tidak lazim langsung dari satu hewan kepada hewan yang lain,biasanya bakteri anthrax jatuh ketanah (yang versifat alkalis )maka bakteri anthrax akan membentuk spora  dan apabila termakan olah ternak /hewan makan akan berupah sebagai bakteri semula.Spora dapat tersebar melalui angin,air,pengolahan tanah.Didaerah dapat disebarkan melalui gigitan lalat Tabanus . Penularan melalui pakan atau peroral arena memakan bahan bahan yang terkontaminasi bakteri tersebut.Penularan pada manusia juga terjadi melalui oral dan kontak langsung atau sentuhan pada kulit hal ini pernah terjadi pada seorang staf laboratorium bakteriologi  BPPV Maros ,sedangkan yang terinfeksi melalui pernapasan  biasanya pada pekerja penyortir bulu domba. Penularan peroral pada manusia biasanya terjadi karena memakan daging yang berasal dari ternak penderita anthrax.

     Gejala penyakit pada hewan/ternak ada dalam beberapa bentuk yang antara lain perakut,akut ,khronis. Gejala perakut nampak ternak/hewan sesak nafas,gemetar kemudian rebah dan mati. Kematian terkesan mendadak  karena ada perdarahan pada otak.Gejala perakut pada ternak sapi,kambing, domba dapat terjadi mendadak mati tanpa adanya gejala tersebut.Anthrax bentuk akut pada sapi,kuda,domba gejalanya mula demam bisa sampai 41,5 ˚C ,gelisah,depresi,sopor.sulit bernafas,denyut jantung frekuen(meningkat) dan lemah,kejang kemudian mati,khusus pada kuda ada gejala kolik,pada ternak yang laktasi akan berhenti dan pada yang bunting akan abortus selain itu ada gejala perdarahan dari lubang kumlah.Gejala yang khronis sering pada babi dengan gejala bengkak didaerah leher/tenggorokan, adanya infeksi sekitar lidah.

Pencegahan dapat dilakukan degan vaksinasi  dengan vaksin aktif strain 34 F2 yang dapat digunakan olah semua hewan denan kekebalan elama satu tahun. Dosis yang diberikan untuk hewa besar 1 ml disuntikan Sub cutan sedang untuk hewan kecil 0,5 ml disuntikan Sub cutan.(Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan 1978)

      Hal yang aneh Penulis temui sekitar tahun 1985 pada waktu itu Penulis bertugas membawa Peserta pelatihan Paramedis Veteriner praktek lapang  dikecamatan Gunung Putri,Jonggol,Cariu. Sebelum ketempat tujuan praktek lapang Rombongan Peserta mendapat arahan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Bogor.Pengarahan diberikan dikantor Dinas pada waktu masih DiSindang Barang oleh drh Ishak Dirja selaku kepala seksi keswan(sekarang sudah almarhum jabatan terakhir Kepala Dinas Kabupaten Indramayu). Beliau mengarahkan agar vaksinasi untuk kecamatan Gunung Putri,Sentul,Jonggol dan Cariu diberikan tidak dengan dosis penuh melainkan setengahnya,karena apabila vaksin diberikan dosis sepenuhnya (sesuai  aturan) maka akan terjadi gejala post vaksinal yaitu ternak bergerak berputar putar untuk menanggulangi gejala post vaksinal bisa diberikan injeksi antihistamin (Deladryl,Vetadryl dll).Sedangkan untuk kecamatan lainnya termasuk dikantor Penulis kebetulan ada seratusan ternak sapi bila divaksin oleh Dinas Peternakan kab. Bogor dengan dosis penuh 1ml dan tidak pernah ada gejala post vaksial satu ekor pun.Pada praktek lapang tersebut ada seorang Peserta pelatihan yang mengabaikan arahan dari Dinas karena pengalamannya menggunakan vaksin yang sama (Vaksin produksi dalam negeri) tidak pernah terjadi gejala post vaksinal ,sehingga Dia mengajak beberapa temannya sesama peserta untuk memberikan dosis penuh.Akibat mengabaikan arahan maka terjadilah gejala post vaksinal pada sekor kerbau dan beberpa ekor kambing dan menimbulkan kematian pada kerbau karena  terlambat diberikan antihistamin.

Kasus tersebut pernah Penulis diskusikan dengan kepala BBPPV drh Isep Sulaiman almarhum sewaktu berkunjung kekantornya .Penulisn katakan bahwa kasus tersebut terjadi karena kemungkinan inbreeding,karena gejala post vaksinal adalah reaksi allergi dan reaksi allergi biasanya pada manusia kebanyakan karena faktor keturunan.Perlu diketahui bahwa kecamatan Jonggol dan Cariu dan sekitarnya merupakan daerah proyek pengenalan IB pertama kali dikabupaten Bogor dan sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang pertambahan ternak yang ada berdasarkan kawin antar ternak yang ada ditempat tersebut atau dengan kata lain terjadi “perkawinan saudara.”.Pendapat  tersebut menurut drh Isep Sulaeman alm dapat dibenarkan.

III.Penutup.

     Penyakit Anthrax adalah penyakit berbahaya bagi ternak maupun manusia (penyakit zoonosis).Walaupun dapat diobati denan antibiotik seperti penicillin G dengan dosis 6000-20.000 IU/kg berat badan secara IM. untuk hewan besar dan 20.000-40.000 IU/kg berat badan secara IM .Pemberian antiserum sekitar 20-30 ml untuk hewan besar dan 20-30 ml untuk hewan keci.Penyuntikan antiserum yg homolog diberikan secara IV atau SC sedang heterolog diberikan secara SC.,namun yang terpenting adalah pencegahan melalui tindakan biosekuriti yang baik dan vaksinasi.

Dinas Peternakan Kabupaten Bogor sekarang melakukan vaksinasi khusus untuk “Kasus  yang aneh” tersebut dilakukan vaksinasi 2x dengan dosis tetap separuh dosis dan kekebalannya dapat mecapai (selama) satu tahun.

Khusus untuk vaksinasi hendaknya petugas yang masih baru atau yunior hendaklah mau bertanya kepada yang lebih dahulu bertugas ditempat tersebut atau yang lebih senior, yang sudah berpengalaman sehingga gejala post vaksinal dapat ditangani dengan baik dan tidak menelan korban.

Kiranya demikian Pengalaman penulis dalam menemukan hal yang aneh pada kasus penyakit anthrax dikabupaten Bogor dan tak lupa marilah kita panjatkan Doa untuk rekan sejawat drh Ishak Dirja  alm dan drh Isep Sulaeman alm semoga Allah SWT menerima amal baiknya dan dedikasinya sebagai Dokter hewan yang mengabdi pada mayarakat Peternakan Indonesia,Amin.

IV. Daftar Pustaka.

Anonimus,1978.Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid I.Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan 

Lasmini Elies.2001.Studi Kasus Burung Unta Dan Manusia Di Kabupaten Purwakarta.Bogor :Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner.

ABSTRAK

      Keberadaan peternakan sapi di Indonesia memang diperlukan sebagai sumber protein bangsa ini ,namun dampak negatifnya harus dihilangkan atau minimal dikurangi .Untuk itu perlunya pengetahuan dan teknologi dalam beternak sapi. Keberadaan peternakan sapi dapat berdampak negatif sbb:

Produksi gas metana yng berlebihan oleh ternak sapi tersebut sehingga terbentuknya efek rumah kaca dan global warming yang meningkat.Untuk menanggulanginya maka perlunya tindakan manajemen yang baik dalam beternak sapi seperti pemberian hijauan pakan ternak yang daya cernanya tinggi,pemberian kombinasi antara hijauan dengan leguminosa,pemberian suplemen pakan ternak berupa biji-bijian dan pengolahan hijauan pakan ternak dalam bentuk silase,pemberian makanan tambahan seperti mineral

Pencemaran tanah oleh adanya pupuk kandang yang berlebihan.Kadar N dalam tanaman didalam tubuh ternak akan diubah menjadi nitrat/nitrit sehingga apabila terakumulasi dalam jumlah banyak didalam tubuh akan menimbulkan keracunan dengan gejala sesak nafas,selaput lendir berwarna biru ,tekanan darah tendah hal ini karena Hb yang seharusnya mengikat oksigen didalam darah tetapi terikat olen nitrit.Oleh karena pemupukan dengan pupuk kandang tidak boleh lebih dari 20 ton /th/ acre.(1 Hektar =2,4711 acre).

Pencemaran lingkungan oleh pembuangan air  susu kesungai dapat mencemari lingkungan tersebut (merusak sumber air baku irigasi ,bau busuk ) karena jumlah air sungainya tidak cukup banyak.Oleh karena itu harus diperhatikan antara lain : Dari pada dibuang airsusu diolah untuk pakan ternak,kalau terpaksa dibuang dilakukan dahulu aerasi (pemberian oksigen),perhitungkan jumlah air sungai harus cukup mengandung oksigenyaitu setiap pembuangan 0,,5 liter  air susu diperlukan 7,5 ppm oksigen yang setara dengan jumlah air sebanyak 6400  liter.

Kata kunci:Pencemaran lingkungan,peternakan sapi

I.PENDAHULAN.

    Dibeberapa kota diIndonesia ada terdapat peternakan sapi perah yang sudah ada sejak puluhan tahun  yang lalu dan dikelola secara turun temurun.Kini peternakan itu harus menyingkir kepinggiran kota bahkan ada yang ditutup .

Bahaya apakah gerangan sehingga limbah peternakan dirasakan dapat mengganggu lingkungan ?

Kita ketahui bahwa limbah dari peternakan yang terutama adalah kotorannya yaitu fecesnya,disamping itu juga produknya seperti susu bila dibuang sembarangan.Untuk memenuhi swasembada daging sejak tahun 2002 populasi sapi potong ditingkatkan 47,8 % sampai th 2012 dengan ratan peningkatan  4,3 % .Adapun dampak lingkungnnya antara lain adalah peningkatan emisi gas metan yang berdampak pada rumah kaca dan dan diperkirakan akan terus menaik.Hewan ruminasia dapat menghasikan gas metana melalui proses methanogenesis.selain efek rumah kaca dampak yang lain yanitu kadar N yang berlebihan serta dari produk  susu yang dibuang sembarangan. 

II.DAMPAK DARI GAS METANA.

    Gas  metana berasal dari  sistem pencernaan melalui proses enteric fermentation dan dari pengelolaan kotoran ternak (feces).Dari ruminansia sapi menyumbang gas metana terbesar dibandingkan dengan kambing dan domba.Dampak dihasilkannya gas metana adalah terbentuknya rumah kaca dan terjadi global warming yang meningkat.

Solusinya untuk mengurangi gas metana yang diproduksi oleh ternak maka perlu manajemen pakan yang baik.Bahan organik dari tanaman oleh methanogens mikroba didalam tubuh ternak dirubah  menjadi gas metana.Dalam proses pencernaan tersebut akan terbentuk asam lemak terbang (volatile fatty acid) yaitu acetat,propionate dan butirat.Apabila kadar propionat tinggi maka pembetukan gas metana rendah.Untuk menghasilkan gas metana yang rendah maka harus dilakukan rekayasa pakan yang baik sbb:

-Memberikan kulitas hijauan yang baik yaitu yang tingkat kecernaan bahan  organiknya tinggi.(61,5 %) sehingga gas metana yang terbentuk rendah.

-Kombinasi hijauan dengann leguminosa akan meningkatkan kecernaan bahan oganik dan mempercepat liwatnya pakan didalam rumen sehingga  gas metana yang terbentuk rendah.

-Suplementasi rumput(pakan sumber serat ) dengan biji-bijian dapat menurunkan gas metana.

-Pemberian silase sebagai olahan hijauan  dapat juga menurunkan gas metana.

-Pemberian pakan additif seperti mineral dapat juga menurunkan produksi  gas metana (Y Widiawati ,B Tiesnamurti). 

III.PENCEMARAN TANAH  OLEH PUPUK KANDANG

     Penggunaan pupuk kandang umumnya sudah populer dikalangan Petani kita,tetapi mereka belum mengetahui akibatnya apabila penanganannya salah.Lingkungan yang dapat dikotori /dicemari oleh pupuk kandang antara lain Sumber air minum /air baku ( air sumur,air danau,air sungai) ,udara yang dicemari oleh  bau busuk,tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang yang melebihi doisisnya. Untuk menghindari pencemaran maka perlu dilakukan tindakan sbb:

-Untuk menghindari pencemaran sumber air maka pembuangan kotoran sapi  sebaiknya jauh atau minimal 30 meter dari sumber air tersebut.

-Untuk menghindari bau busuk jangan membuang kotoran sapi kesungai, apalagi yang alirannya lambat  .Tempat pembuangan sebaiknya dicampur atau ditutup dengan tanah.Pembuangan sebaiknya jangan sewaktu hujan dan sewaktu angin kencang sehingga bau akan menyebar kemana-mana.

-Penggunaan pupuk kandang bagi petani dilahan pertanian sebaiknya diberikan pengairan dan dibiarkan  sebulan agar terjadi penguraian kotoran (pupuk kandang ) tersebut .Dosis atau takaran harus tepat.

Dampak penggunaan pupuk kandang yang berlebihan .

Tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang yang berlebihan akan mengandung kadar nitrat yng tinggi dan tanaman atau rumput yang ditanam akan mengadung nitrat yang tinggi juga .Apabila tanaman atau rumput tersebut dimakan oleh ternak  maka dapat terjadi keracunan .Nitrat didalam tubuh ternak oleh mikrobak dirubah menjadi nitrit yang kemudian mengikat Hb (Haemoglobin) didarah merah  sehingga darah merah tidak dapat mengikat  atau membawa oxygen keseluruh tubuh untuk proses oksidasi dialam tubuh.Gejala yang terlihat ternak sesak nafas, selaput lendirnya biru,tekanan darahnya rendah,jantung melemah dan  mati setelah 3-4 jam keracunan.Pada ternak yang sedang bunting dapat terjadi abortus.Sedang apabila dosis agak rendah maka dapat terjadi infertlitas pada ternak betina. Untuk menghindari hal tersebut maka pemupukan tidak boleh melebihi 20 ton/th/ acre.(1 Hektar =2,4711 acre).

IV.PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH PEMBUANGAN AIR SUSU.

    Kita pernah dikejutkan dengan demonstrasi (aksi) membuang air susu kesungai oleh koperasi susu ditanah air karena harga susu rendah.

Pembuangan air susu kesungai tanpa memperhitungkan dampak lingkungannya sangatlah berbahaya bagi kesehatan ditempat pebuangan.Air susu mengandung zat protein ,lemak.,mineral dsb.Zat tersebut didalam air dihydrolisa dan dioksidasi oleh oxygen didalam air sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan hewan air untuk keperluan hidupnya.

Apakah dampaknya apabila jumlah oksigen.didalam air tidak cukup ?

Maka akan terjadi reaksi anaerob (tanpa oksigen),zat- zat tersebut setelah dihydrolisa akan difermentasi  sehingga terbentuk zat ammonia,H2S, Co2 ,metana dll.    Zat tersebut menyebabkan derajat keasaman merendah ,casein mengendap kemudian timbul bau busuk sehinga air tidak dapat dipakai sebagai sumber air baku,air irigasi dan ikanpun dapat mati. Bagaimana cara pencegahannya atau penanggulangannya ? Untuk mencegah dampak negatif dari pembuangan air susu maka perlu diperhatikan Hal –hal sbb :

- Dari pada air susu dibuang maka lebih baik diolah menjadi pakan ternak.

-Seandainya tidakmungkin maka air susu yang akan dibuang diendapkan didalam tangki lalu dioksidasi (diaerasi) sebelum dibuang.

-Apabila hendak dibuang langsung kedalam sungai (air) harus diperhitungkan jumlah oksigen didalam air. Untuk membuang airsusu 0,5 liter diperlukan 7,5ppm oksigen. Untuk 7,5 ppm oksigen ada pada air sebanyak 6400 liter. Berapa banyak air diperlukan apabila membuang air susu 1 mobil tangki  ?                             (Indrawati Rumawas).

V.PENUTUP

     Keberadaan peternakan sapi memang diperlukan bagai ketersedianan bahan makanan sumber protein bagi bangsa ini.Untuk menghindari dampak negatifnya maka perlunya teknologi atau pengetahuan yang mengawalnya dan untuk itu diperlukan sumber daya manusia dibidang peternakan yang akhli.Hasil hasil kajian para akhli hendaknya diaplikasikan kepeternak sehingga mereka dapat ikut mengurangi dampak negatif dari peternakan sapi.

 

VI. DAFTAR PUSTAKA.

Rumawas ,Indrawati.1977.Kesehatan Masyarakat Veteriner.Bogor: IPB

Stoskopf ,Neal C.1981.Understanding Cropproduction .Reston Virginia :Reston Publishing Company.Inc

Widiawati Y,Tiesnamurti B.2012.Pengolahan pakan sebagai salah satu  strategi  untuk mitigasi gas rumah kaca dari ternak ruminansia.Potensi bahan pakan lokal untuk menurunkan gas metana ternak ruminansia.hal1-22.

Abstract

This research entittled”the effect of breed of cattle and levels of Follicle Stimulating Hormone(FSH) on ovulation rate, its reletion to embryo production”  was conducted. This study was conducted at the station for livestock embryo, cipelang, Bogor . Experimental method was applied, using a 3 x 3 x 5 factorial pattern based on Completely Randomized Design. The analysis of variance showed that the breed affected non significantly (P>0,05). On the number of corpos luteum, whereas the level of FSH showed significant affect(P<0,05). No interaction was detected (P>0,05).Honesty significant difference test showed that the level of 16mg and 18 mg of FSH did not affect corpus luteum , however, the levelo f 20 mg showed highly significant (P<0,01)higher numberof corpus luteum compared to  those of 16 mgand 18 mg. The results of regresion analysis showed that the breed of cattle did not affect(P>0,05) then umber of corpus luteum, and was showed by alinear equation with a corelation  of  r =,3502 and a determination coefficient of  = 0,1226. Thenalysis of variance showed that the breed of cattle showed a signifficant affect (P<0,05) on embryo number, the level of FSH showed a highly signifficant (P<0,01)and the interaction showed a  signifficant (P<0,05) affect. Honesty signifficant difference test showed that the breed of simental showed a signifficant (P<0,05) higher number of embryo comparated to those of limousineand  FH, whereas no differences (P<0,05) was detected in the n umber of embryo between that of FSH and Limousine. The level of 20 mg of FSH showed highly signifficant higher of embryo (P,0,01) compared to those of 16 and 18 mg, whereas no differenes (p>0,05) was delected between those 0f 16 and 18 mg of FSH . the analysis of variance swowed that the relationship between the nu mber of embryo and the level of FSH of Simental cattle folowed a regretion equation of y = 9,95 + 0,69 x,                                

With a correlation of r = 0,8767 and a determination coefisien of r= 0,7687’ thereb was a linear relationship between CL (x) and the number of embryo (Y), with a regression equation  of Y = 1,2573 + 0, 5853, X(r= 0,855, and = 0,730)

Keywords :  Breed of cattle, levels of FSH, number at Corpus Luteum and Embryo Production

PENDAHULUAN

Produktifitas ternak di indonesia pada saat ini ditandai dengan rendahnya angka kelahira, masih tinggingnya anka kematian, sering berkecamuknya wabah penyakit hewan menular, dan penyakit  reproduksi. Ditinjau dari aspek reproduksi ternak ,tidak terjadi efisiensi pada sel gaet betina . untuk menghasilkan 1 zigot dalam suatu proses fertilisasi hanya dibutuhkan 1 buah ovum. Dipihak lain dalam setiap terjadi ov ulasi, banyak ova yang mengalami  degenerasi  berarti  banyak ova yang terbuang percuma, sehingga secara  ekonomis  telah terjadi pemborosan dan kerugian material genetik jika berasal dari betina unggul (Sumaryadi, 2003)

Kedua ovarium betina mengandung ratusan ribu ova, namun selama hidupnya hanya beberapa ovum yang diovulasikan, sehingga sisanya sebagai sumberdaya biologis masih belum dimanfaatkan secara optimal. Teknologi  pemanfaatan kelimpahan folikel baik sebagai penghasil ovum untuk produksi embrio  maupun sebgai penghasil  corpus lutem untuk produksi : hormon reproduksi endogen (Progesteron, estrogen) dapat dilakukan dengan teknik seper ovulasi.  Teknik superovulasi yang dilakukan pada ternak domba, kambing dan sapi rata rata dapat mencapai 12 ova yang di ovulasikan , sedangkan pada babi 12 sampai 20 ova (Sumaryadi, 2003)

Superovulasi (multiple ovulation) biasanya digunakan preparat  Gonadotrophin Releazing Hormone (GnRH),yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH),dan Luteinizing Hormone (LH),dengan merk dagang,antara lain pluset dan follotrophin .Pregnant  Mare̕s serum Gonadotrophin (PMSG),Human Chorionic Gonadotrophin (HCG) dengan merk dagang foligon,chorulon,pregnecol. Superovulasi akan memberikan respon terhadap jumlah ovum, corpus luteum, embrio yang dikoleksi dan jumlah embrio yang layak ditransfer. Embrio yang layak ditransfer dalam program transfer embrio (TE) merupakan tolok ukur dari keberhasilan superovulasi(Yusuf, 1990)

METODE PENELITIAN

Materi penelitian yang digunakan adalah 45 ekor sapi yang terdiri dari 15 ekor sapi FH, 15 ekor sapi Simental, dan 15 ekor sapi Limousin. Sapi donor yang digunakan adalah sapi yang berumur 5 (lima )tahun, kisaran bobot badan 450 - 500 kg dan Body Condition Scoring (BCS) 2,8 – 3 . Sapi sapi tersebut diseleksi dengan melakukan palpasi rektal untuk menentukan status reproduksi (normalitas reproduksi) Setiap kelompok  sapi (a1,a2 dan a3) disinkronisasi dengan CIDR pada hari ke 0 (nol)  . Implantasi selama 3 hari, pada hari ke 7 setelah CIDR di implantasi dilakukan palpasi rektal untuk menentukan status reproduksi atau mengecek kondisi corpus luteum (Fase folikuler atau  fase luteal). Superovulasi dengan menyuntik ovagen dilakukan pada hari ke 9 , 10 dan 11 (selama 3 hari berturut turut) pagi dan sore, dengan disis 16, 18 dan 20 mg , sedangkan PGF 2α  (  pada hari ke 11) dengan dosis 5 mg. Pada hari ke 12 CIDR dicabut, pada hari ke 13 dan 14 dilakukan IB sebanyak 2 kali pagi dan sore atau sore dan pagi hari.

Penghitungan corpus luteum pada saat menjelang dilakukan flushing (panen embrio) yaitu pada hari ke 20 dan 21. Setelah dilakukan flushing, embrio yang diperoleh selanjutnya diamati dibawah mikroskup dengan pembesaran 70 x 150 untuk diklasufikasikan kualitasnya berdasarkan parameter, seperti zona pelucida  yang rata warna, kekompakan sel dan banyaknya sel yang mengalami degenerasi. Pengkatagorian kualitas embrio adalah : Grade A, B, C dan garde D.

Embrio yang dikatagarorikan grade A dan B kemudian difoto dan dipindahkan kedalam cawan petri ukuran 35 x 10 mm yang berisi media flushing DPBS + 20% CS ethyline glicol 10%, sedangkan embrio katagori grade C dilakukan cultur dalam inkubator Co2 atau ditransfer segar, apabila terdapat resipien yang memenuhi sarat pada saat yang sama untuk di TE .

Embrio  kualitas A dan B dimasukan kedalam straw dan ditiup atau di seal lalu diberi nno kode dan embrio tersebut siap  untuk dibekukan.

Penelitian ini menggunakan metode experimen dengan perlakukan yang diberikan adalah kombinasi antara bangsa dan dosis ovagen. Faktor pertama adalah bangsa sapi (a) yang terdiri dari a1 = Simental ; a2 = Limousin; dan a3 = Frisian Holstein (FH). Faktor kedua adalah dosis ovagen yang terdiri dari b1 = 16 mg; b2 = 18 mg dan b3 20 mg. Masing-masing unit kombinasi perlakuan diulang 5 kali  berupa ternak sapi

Perubahan yang diamati adalah hasil respon superovulasi dan kualitas embryo yang dapat ditransfer. Respon ovulasi yang digunakan sebagai  parameter yaitu jumlah corpus luteum lebih dari 1, sedangkan kualitas embrio yang dijadikan parameter adalah embrio layak transfer

Data yang diperiksa dianalisi dengan analisi variansi menggunakan model  matematika  Yij =µ+α¡+βј +(αβ¡ј) + Σij (Steel and Torrie, 1991). Setelah data dianalisis, apabila berbeda nyata (significant) kemudian dilanjutkan dengan uji nyata jujur (BNJ) pada analisis regresi  antara dosis ovagen (X) dengan jumlah corpus luteum maupun jumlah embrio (Y) dengan persamaan Y = a ± bx.

HASIL PEMBAHASAN

          Jumlah Corpus Luteum

Hasil penelitian menununjukkan bahwa rataan jumlah corpus luteum yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 12.22 ± 4.00. Secara rinci jumlah corpus luteum yang dihasilkan selama penelitian disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1.     Pengaruh bangsa sapi dan dosis Ovagen terhadap jumlah corpus luteum

Bangsa (a)

Dosis (b)

Rataan CL

b1 =16 mg

b2 = 18 mg

b3 = 20 mg

FH (a1)

11.80

7.20

15.20

11.40 ± 4.01

Simmental (a2)

9.20

12.00

19.20

13.47 ± 5.16

Limousin (a3)

8.80

10.00

16.60

11.80 ± 4.20

Rataan

9.93 ± 1.63

9.73  ± 2.41

17.00  ± 2.03

12.22 ± 4.00

 

Tabel 1 menunjukkan bahwa bangsa sapi yang mempunyai jumlah corpus luteum tertinggi adalah sapi Simmental, yaitu sebesar 13.47  ±  5.16 kemudian disusul oleh Limousin dan FH, masing-masing 11.80  ±  4.20 dan 11.40  ± 4.01.  Namun, perbedaan bangsa sapi relatif tidak mempengaruhi jumlah corpus luteum yang terbentuk.  Sebaliknya, pada dosis Ovagen 20 mg diperoleh jumlah corpus luteum tertinggi yaitu 17.00 jika dibandingkan dosis Ovagen 16 dan 18 mg.  Peningkatan dosis Ovagen dari 16 dan 18 mg menjadi 20 mg ternyata dapat meningkatkan jumlah corpus luteum masing-masing sebesar  71.20 dan 74.72 persen.  Jumlah corpus luteum ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian FSH dengan merk dagang (antrin) seperti yang dilaporkan Situmorang et al., (1998) bahwa pemberian 7 mg FSH pada sapi  FH menghasilkan jumlah corpus luteum 9.1.  Hal ini diduga akibat perbedaan hormon maupun bangsa sapi yang digunakan. 

Secara umum, pada sapi Simmental dan Limousin ternyata peningkatan dosis Ovagendapat meningkatkan jumlah corpus luteum, sedangkan pada sapi FH terjadi fluktuasi jumlah corpus luteum dengan meningkatnya dosis FSH.

Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh tidak nyata (P > 0.05) terhadap jumlah corpus luteum yang dihasilkan, sedangkan dosis Ovagen yang diberikan pada sapi menunjukkan pengaruh yang nyata (P < 0.05), namun interaksi ke-2nya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P > 0.05).  Hasil uji BNJ  untuk dosis Ovagen terhadap jumlah corpus luteum, menunjukkan bahwa pemberian dosis Ovagen 16 sampai 18 mg tidak menyebabkan perbedaan jumlah corpus luteum, namun pemberian dosis Ovagen 20 mg menyebabkan perbedaan jumlah corpus luteum yang sangat nyata (P < 0.01)

Hasil analisis regresidapat diketahui bahwa hubungan antara pemberian dosis Ovagen dan jumlah corpus luteum menunjukkan pengaruh yang nyata (P < 0.05), mengikuti persamaan regresi  linier, dengan koefisien korelasi r = 0.3502 dan koefisien determinasi r2 = 0.1226.  Kenyataan ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis dari 16 dan 18 mg menjadi 20 mg akan meningkatkan jumlah corpus luteum yang dihasilkan, dengan kata lain bahwa peningkatan jumlah corpus sebesar  12.26  persen dipengaruhi oleh dosis Ovagen, sedangkan sisanya 87.74 persen dipengaruhi oleh faktor lain.Hubungan antara jumlah pemberian dosis Ovagen dan jumlah corpus luteum pada sapi seperti terlihat  pada Gambar 1.

 

 

 

 Corpus        4.0

 luteum         3.5

 (buah)          3.0

                     2.5

Y = - 1,86 + 0,28 X

                     2.0

                     1.5

                     1.0

                     0.5

                     0.0


 

                                 16                                   18                                20

Dosis Ovagen (mg)

            Gambar 1. Hubungan antara jumlah corpus luteum dengan dosis Ovagen

 

Keterangan

Y    =    jumlah corpus luteum 

X    =    dosis Ovagen

r     =    koefisien korelasi

r2   =    koefisien determinasi

Berdasarkan hasil tersebut, ternyata peningkatan dosis Ovagen sampai 20 mg mampu meningkatkan jumlah corpus luteum pada semua sapi.  Ovagen merupakan derivat hormon gonadotrophin yakni FSH.  Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1993) bahwa FSH berperan dalam menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan folikel.  Folikel yang maturasi atau folikel de Graaf yang berovulasi dipengaruhi oleh pakan, umur, jenis hewan, dan hereditas.  Tingkat ovulasi juga diatur oleh adanya sekresi LH yang dipicu oleh aksi umpan balik positifdari estrogen yang dihasilkan folikel (Hunter 1995).  Semakin banyak ovum yang berovulasi (folikel de Graaf) maka akan semakin banyak jumlah corpus luteum yang dihasilkan.

          Jumlah Embrio

Hasil penelitian menununjukkan bahwa rataan jumlah embrio yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 5.31  ± 4.47.  Secara rinci jumlah embrio yang dihasilkan selama penelitian disajikan dalam Tabel 2.

          Tabel 2. Pengaruh bangsa sapi dan dosis Ovagen terhadap jumlah embrio

Bangsa (a)

Dosis (b)

Rataan

Embrio

b1 =16 mg

b2 = 18 mg

B3 = 20 mg

FH (a1)

3.60 

2.00

5.00

3.53  ± 1.50

Simmental (a2)

1.60

5.20

16.60

7.80  ± 7.83

Limousin (a3)

4.00

3.80

6.00

4.60  ± 1.22

Rataan

3.07  ± 1.29

3.67  ± 1.60

9.2  ± 6.43

5.31  ± 4.47

 

Tabel 2 menunjukkan bahwa bangsa sapi yang mempunyai jumlah embrio tertinggi adalah sapi Simmental yaitu sebesar 7.80  ± 7.83; kemudian disusul Limousin dan Frisien Holstein (FH), masing-masing 4,60  ±  1.22 dan 3,53  ± 1.50.  Sebaliknya, pada dosis Ovagen 20 mg diperoleh jumlah embrio tertinggi yaitu 9.20  jika dibandingkan dosis Ovagen 16 dan 18 mg.  Peningkatan dosis Ovagen dari 16 dan 18 mg menjadi 20 mg ternyata dapat meningkatkan jumlah embrio masing-masing sebesar  199.67 dan 150.68 persen.  Jumlah embrio  ini lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil yang dilaporkan oleh peneliti terdahulu (Boland and Roche, 1991; Prabowo, 1995; Tappa et al., 1997; dan Situmorang et al., 1998).  Rendahnya jumlah embrio ini adalah akibat respon yang sangat bervariasi antara individu sapi dan perbedaan dosis maupun jenis FSH yang digunakan untuk superovulasi (Dielmen et al., 1993)

Hasil analisis variansi   menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh nyata (P < 0.05) terhadap jumlah embrio yang dihasilkan, dan dosis Ovagen yang diberikan pada sapi menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P < 0.01) terhadap jumlah embrio.  Interaksi antara keduanya menunjukkan pengaruh yang nyata (P < 0.05) terhadap jumlah embrio yang dihasilkan.

Hasil uji BNJ untuk bangsa sapi  terhadap jumlah embrio,  menunjukkan bahwa sapi Simmental menghasilkan jumlah embrio yang nyata lebih banyak dibandingkan dengan sapi FH dan Limousin (P < 0.05), sedangkan jumlah embrio sapi FH dan Limousin tidak berbeda nyata (P > 0.05).  Pemberian dosis Ovagen 20 mg (b3) memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0.01), yaitu menghasilkan jumlah embrio yang lebih banyak, dibandingkan dengan pemberian dosis Ovagen 16 dan 18 mg, sedangkan dosis Ovagen 16 dan 18 mg  tidak menunjukkan adanya perbedaan (P > 0.05).  Berdasarkan hasil analisis interaksinya Sapi Simmental yang diberi Ovagen dosis 20 mg menunjukkan jumlah embrio yang paling banyak (Gambar 2).  Daya hidup embrio sangat tergantung pada kondisi lingkungan mikro uterus.  Kesiapan lingkungan mikro uterus menunjang daya hidup embrio, sangat dipengaruhi oleh konsentrasi progesteron dan estrogen (Noakes, 1997).  Konsentrasi progesteron mempengaruhi fungsional sel-sel kelejar uterus yang sebelumnya saluran (ductus) kelenjar uterus dipengaruhi oleh estrogen (Arkara Vienien and Kendle, 1992).  Peningkatan kedua hormon tersebut tergantung pada courpus luteum fungsional, sehingga dengan jumlah courpus luteum yang sama tetapi secara fungsional berukuran berbeda menyebabkan konsentrasi progesteron dalam peredaran darah berbeda.  Diduga perbedaan genetik (bangsa) juga memiliki karekteristik reproduksi yang berbeda sesuai pendapat Noakes (1997) bahwa banyak alasan reproduksi dipengaruhi genetik dan lingkungan.  Dengan demikian diduga sapi Simmental memiliki karekteristik yamg lebih baik dalam menjaga daya hidup embrio sebeliu flushing dibanding dengan Limousin dan FH.  Hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa hubungan antara jumlah embrio dengan dosis Ovagen pada sapi Simmentasl  mengikuti persamaan regresi :

 

Y = - 9,95 + 0,69 X   (r = 0.8767  dan  r2 = 76,87 persen)

 jumlah         4.0

 embrio         3.5

 (buah)          3.0

                     2.5

Y = - 9,95 + 0,69 X

                     2.0                   

                     1.5                                                                                                                     

                     1.0

                     0.5

                     0.0


 

                                 16                                   18                                20

Dosis Ovagen (mg)

         Gambar 2. Hubungan antara jumlah embrio dengan dosis Ovagen

Keterangan

Y = jumlah embrio 

X = dosis Ovagen

r = koefisien korelasi

r2 = koefisien determinasi

 Hubungan antara Jumlah Corpus Luteum dan Embrio

Antara jumlah corpus luteum (X) dan embrio (Y) terdapat hubungan yang linier mengikuti persamaan garis Y =   1.2573 + 0.5853 X  dengan koefisien korelasi (r) =  0.855  dan koefisien determinasi (r2) = 0.730 (Gambar 3).  Manifestasi dari Gambar 3 adalah semakin banyak jumlah corpus luteum akan semakin banyak jumlah embrio yang dihasilkan.  Peningkatan jumlah corpus luteum akan mempengaruhi peningkatan jumlah embrio sebesar  73.0  persen, sedangkan sisanya sebesar 27.0 persen dipengaruhi oleh faktor lain :

 

 

 

                      15

Jumlah

embrio

(buah)            10

Y = 1,2573 + 0,5853 X

 

 

 

                       5

                         0         5                      10                    15       

         20

                                                Jumlah corpus luteum (buah)

            Gambar 3.  Hubungan antara jumlah corpus luteum dan jumlah embrio

Jumlah corpus luteum ditentukan berdasarkan jumlah folikel yang berovulasi, semakin banyak jumlah folikel yang berovulasi maka semakin banyak jumlah corpus luteum, dan semakin tinggi peluang terjadinya ovum yang terfertilisasi menjadi embrio (Piper and Bindon, 1984).  Superovulasi diharapkan meningkatkan produksi ova yang telah dibuahi oleh spermatozoa untuk menjadi embrio.  Tingkat keberhasilan program ini tergantung pada jenis dan dosis FSH yang digunakan (Dielmen et al., 1993).  

Berdasarkan hasil penelitian ini maka peningkatan jumlah corpus luteum atau jumlah folikel yang berovulasi dapat dipakai sebagai salah satu cara untuk meningkatkan jumlah embrio yang akan digunakan dalam program transfer embrio.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

            Kesimpulan

  1. 1.Bangsa sapi tidak dapat mempengaruhi laju ovulasi akan tetapi dapat mempengaruhi produksi embrio
  2. 2.Semakin tinggi dosis FSH yang diberikan akan semakin tinggi pula laju ovulasi dan produksi embrio.
  3. 3.Tidak terdapat pengaruh bersama antara bangsa sapi dan dosis FSH terhadap laju ovulasi.
  4. 4.Terdapat pengaruh bersama antara bangsa sapi dan dosis FSH terhadap produksi embrio.

            Saran

Program superovulasi dianjurkan menggunakan dosis Ovagen 20 mg untuk sapi Simmental dan 16 mg untuk sapi Limousin dan FH.

DAFTAR PUSTAKA

Boland, M.P. and J.F.  Roche, 1991. Embryo Production Alternative methods.  International Trend of the Research on Animal Embryo Transfer.  Fukushima, Japan pp. 2-13.

Dielmen, S.J and M.M., Vos, P.L.A.M Bevers and F.A.M Deloos, 1993. PMSG In Animal Reproduction Laboratory. Colorado State University.

Direktorat Jenderal Peternakan, 2000. Program Terobosan Menuju Swasembada Daging Sapi tahun 2005. Departeman Pertanian.

Elsden, R.P., and G.E. Seidel, Jr. 1982. Embryo Transfer Procedure for Cattle. In Animal Reproduction Laboratory. Colorado State University. Fort Collins, Colorado.

Noakes, D.E. 1997. Fertility and Obstricts in Cattle Second Edition. Blackwell Science. Massachusetts, USA.

Partodiharjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya. Jakarta.

Piper,  L.R. and B.M. Bindon, 1984. Ovulation rate as selection criterion for improving littersize in Merino Sheep.  Cambridge University Press. Cambridge pp. 237-239.

Prabowo, P.P., 1995. Folicullair development and plasma progesterone  levels in superovulated dairy cows. Symposium an biotechnology of animal reproduction.  Bogor Agricultural University Indonesia. Hal 11.

Prabowo, P.P., 2001. Transfer Embrio Pada Sapi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Seidel, G.E.Jr. and S.M. Seidel. 1991. Training Manual for Embryo Transfer in Cattle. Animal Reproduction laboratory. Colorado State University. Fort Collins, USA.

Sirois, J. and J.E. Fortune, 1988. Ovarian Follicular Dynamics During Estrous Cycle in Heifers Monitored by Real-Time Ultrasound. Biology of Reproduction 39:308-317.

Situmorang, P., A. Lubis, E. Triwulaningsih, I.G. Putu, dan K. Diwyanto. 1998. Pengaruh pemberian FSH pada hari ke-1 siklus birahi , flushing pada waktu birahi  terhadap respon sapi perah yang kemudian mendapat perlakuan superovulasi. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan. Bogor. Hal 289 – 296.

Steel, R.G.D and J.H. Torrie, 1991. Principles and Procedures of Statistic Me Graw-Hill Book Co. Inc. Pnt. Ltd. London.

Sumaryadi, M.Y., 2003. Perkembangan Bioteknologi Reproduksi Ternak. Program Studi Sumber Daya Ternak. Program Pasca Sarjana. Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto.

Suprianto, 2004. Pemeriksaan Standarisasi Produksi dan Transfer Embrio. Balai Embrio Ternak Cipelang. Materi Pelatihan Pejabat Fungsional Pengawas Bibit Ternak Tingkat Terampil.

Supriatna, I dan F. Pasaribu., 1992. In Viitro Fertilsasii, Transfer Embriio dan Pembekuan Embrio. PAU-Bioteknologi IPB. Bogor.

Tappa, B., M.  Soewecha, S. Said, M. Kalin, and F. Ofiati., 1997. Over 5 years of study in superovulation of dairy abd beef cows using FSH-Ovagen and FSH-P during embryo transfer 4th International meeting on biotechnology in Animal reproduction. Bogor Indonesia.

Toelihere, M.R., 1993. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa Bandung.

Yusuf, L.T., 1990. Pengaruh Prostaglandin F2 Alpha Gonadotropin Terhadap Aktivitas Estrous dan Superovulasi dalam Rangkaian Kegiatan Transfer Embrio pada Sapi Fries Holland dan Peranakan Ongol. Disertasi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

halaman 1 dari 14