TEKNIS

TEKNIS (56)

Dayat Hermawan

1

Permintaan daging cenderung meningkat dari waktu ke  waktu seiring dengan pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi,  kesadaran gizi, dan tingkat pendidikan. Peningkatan permintaan akan daging harus diimbangi dengan peningkatan populasi, produksi danproduktivitas ternak sapi terutama sapi potong yang merupakan salah satu sumber penghasil daging yang sangat potensial. Memadukan antara tanaman dan ternak sekarang ini menjadi salah satu model pertanian. Konsep terpadu (integrated system) banyak menggunakan jenis komoditinya, tapi yang cukup populer belakangan adalah perpaduan kebun sawit dengan peternakan. Sebenarnya sistem beternak demikian dapat memanfaatkan 100% Pelepah Sawit.(berikut daun dan lidinya), dengan catatan peternak mampu
memperkecil ukuran partikel pelepah sawit (sehalus mungkin), artinya hijauan tidak digunakan sama sekali.

Pengembangan perkebunan sawit menyebabkan peningkatan produk sampingan / limbah yang berpotensi mengganggu lingkungan, jika tidak dikelola dengan benar. Masalah ini dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak yang berperan sebagai mesin pengolah limbah atau pabrik penghasil bahan organik.

Tanaman perkebunan sawit mempunyai potensi limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, baik unggas maupun ruminansia berupa daun,
pelepah, tandan kosong, cangkang, serabut buah, batang, lumpur sawit, dan bungkil sawit. Salah satu masalah yang dihadapi dalam pengembangan ternak sapi potong di Indonesia pada saat ini yaitu kesulitan mendapatkanpakan hijauan terutama di wilayah lahan kering khususnya pada musim kemarau.

Limbah sawit mengandung bahan kering, protein kasar, dan serat kasar yang nilai nutrisinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber  pakan hijauan alternatif sapi
potong. Pemanfaatan lombah sawit dinilai belum optimal, maka integrasi perkebunan sawit dengan ternak sebenarnya merupakanagroindustri masa depan
yang memberikan harapan dan nilai tambah bila dikelola dengan benar.

Di Kebun Sawit, Sapi di sebut sebagai "Hama"

 

Sapi dianggap sebagai “hama” jika berada di dalam areal kebun sawit, karena akan terjadi defoliasi oleh ternak sapi sehingga daun sawit menjadi rusak. Ternak sapi juga teridentifikasi sebagai  carier  bagi penyebaran penyakit  Ganoderma boninense dan ulat kantong (Metisa plana).

Ternak sapi masih mampu menjangkau pelepah sehinggaakan langsung berdampak pada penurunan efektivitas fotosintesis yang berakibat pada terbatasnya
alokasi fotosintat untuk perkembangan buah, selain  dampak jangka panjang pada penurunan sex ratio.

Penggembalaan ternak sapi yang dapat mencapai ribuan ekor setiap harinya,akan menunjukkan adanya suksesi gulma di gawangan (lorong antar tanaman sawit)
sehingga akan mengakibatkan rumput paitan (Paspalum conjugatum) menjadi sangat dominan, sedangkan pakis lunak (Neprolepis biserata) menjadi sangat jarang dijumpai. Kondisi ini untuk jangka panjang akan berakibat pada iklim mikro tanah yang menjadi lebih rentan terhadap cekaman kekeringan serta berkurangnya tumbuhan inang bagi predator hama ulat pemakan daun sawit.

Potensi Pelepah Sawit

Tanaman sawit menghasilkan 3 jenis limbah utama yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu pelepah dan daun sawit, lumpur minyak sawit
dan bungkil inti sawit. Limbah ini volumenya berlimpah sepanjang tahun, tetapi penggunaannya sebagai pakan ternak belum maksimal,  apalagi pada peternakan
rakyat.

Pelepah merupakan salah satu limbah yang dihasilkandari tanaman sawit yang diperoleh dari hasil pemangkasan yang rutin dilakukan. Siklus pemangkasan
setiap 14 hari, tiap pemangkasan sekitar 3 pelepah  daun dengan berat 1 pelepah mencapai ± 10 kg (pohon dewasa). Satu hektar lahanditanami sekitar 130-148 pohon sehingga setiap 14 hari akan dihasilkan ± 4.440 kg  atau 8.880 kg/bulan/ha. Kandungan bahan kering dari pelepah daun sawit sebesar 35% sehingga jumlah bahan kering pelepah sawit sebesar 3.108 kg/bulan/ha. Menurut PPKS Medan (2013), produksi pelepah sawit (bahan kering) sebesar 1,64 ton/Ha/tahun.

 

Bila ditinjau dari segi potensi kandungan gizi/nutrien limbah sawit sangat memungkinkan untuk digunakan sebagai pakan ternak.  Hasil beberapa penelitian
yang dilaporkan menunjukkan bahwa limbah sawit mempunyai kandungan gizi pakan yang bervariasi tergantung jenis limbah. Bahan pakan dari pelepah sawit dan
ikutan pabrik sawit memenuhi syarat untuk dijadikansebagai pakan ternak sapi potong. Sebagai perbandingan kandungan nutrisi pelepah sawit dengan limbah sawit lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Beberapa Limbah Sawit

tabel1

 

Pelepah yang dimanfaatkan sebagai bahan pakan adalah “tunasan panen” yaitu penggunaan pelepah tunasan hanya 50% dari total produksi tunasan panen,
dan sisanya sekitar 50% lagi harus tinggal di kebunsebagai bahan organik. Pelepah yang digunakan untuk bahan pakan adalah pelepah dari panen buah. Produksi
pelepah sawit berdasarkan klasifikasi umur disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Produksi Pelepah Sawit

tabel2

Contoh Perhitungan Kapasitas Tampung Kebun Sawit (PPKS Medan, 2013):
  - Kerapatan pohon : 130 pohon/ha.
  - Ancak panen : 6 atau 7.
  - Densitas panen : 20%, 50% mulsa ke kebun, tanpa pruning.
  - Bobot pelepah (basah) : 5,4 kg/pelepah.
  - Konsumsi (BK) : 3,3 kg/ekor/hari.
  - Konsumsi (basah) : 9,2 kg/ekor/hari.
Jika produksi pelepah kering sebesar 1,64 ton/Ha/tahun atau setara dengan produksi pelepah basah sebesar 11,7 kg/Ha/hari, maka daya dukung kebun sawit adalah 1 hektar hanya untuk 1 ekor sapi potong dewasa.

Asumsi lain untuk Tanaman Muda :
  Kerapatan pohon : 130 pohon/Ha.
  Penggunaan pelepah : 50% untuk mulsa di kebun, 50%untuk bahan pakan.
  Bobot (basah) : 3,5 kg/pelepah.
Maka 1 Ha menghasilkan pelepah sebanyak 22,75 kg/hari.

Nutrisi Pelepah sawit

Kandungan nutrisi dari pelepah sawit meskipun tergolong berkualitas rendah, tetapi cukup lengkap sebagai pakan alternatif sapi  potong. Hasil analisis Lab. Ilmu
Nutrisi Makanan Ternak, Departemen Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara (2000), pelepah dan sawit mengandung6,50-14,80% protein kasar, 32,55% serat kasar, 4,47% lemak kasar, 93,4 bahan kering dan 56,00% TDN, serta ligin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%. Hasilanalisis memperlihatkan bahwa kandungan protein kasar pelepah dan daun sawit masih rendah yaitu sebesar 6,50% dengan serat kasar yang masih tinggi yaitu sebesar  32,55%. Kandungan serat kasar yang tinggi akan mempengaruhi kecernaan bahan pakan. Daun sawit memiliki keambaan, daya serap air dan kelarutan yang lebih tinggi. Hasil analisis Nutrisi Pepelah Sawit (Sumber PPKS Medan, 2008) sebagai berikut : 12,04% protein kasar, 4,76% lemak kasar, dan 96,87% BK.

Menurut Hassan dan Ishida (1992), dari daun sawit diperoleh hijauan segar yang dapat diberikan langsung ke ternak, baik yang berbentuk segar maupun yang telah diawetkan seperti dengan teknologi silase maupun amoniasi. Perlakuan dengan silase memberi keuntungan, karena lebih aman dan dapat memberi nilai nutrisi yang lebih baik dan sekaligus memanfaatkan limbah pertanian. Keuntungan lain dengan perlakuan silase ini adalah pengerjaannya mudah dandapat meningkatkan kualitas dari bahan yang disilase. Jafar dan Hassan (1990) menyatakan, pelepah daun sawit dapat diproses dalam bentuk pellet dan diawetkan dalam bentuk silase. Dari analisa kimia dinyatakan bahwa daun sawit tersusun dari 70% serat dan 22% karbohidrat yang dapat larut dalam bahan kering. Ini menunjukkan bahwa daun sawit dapat diawetkan sebagai silase dan telahdiindikasikan bahwa kecernaan bahan kering akan bertambah 45% dari hasil silase daun sawit.

Pemanfaatan Pelepah sawit

Berdasarkan data potensi pelepah sawit, jika diasumsikan ternak dapat mengonsumsi limbah sawit sebanyak 10-15 kg/ekor/hari, maka prediksi produksi
limbah sawit mampu menyediakan pakan sepanjang tahun dan hanya dimanfaatkan sebanyak 46,94-70,41% dari total produksi limbah sawit. Hal ini
menunjukkan bahwa masih terdapat kelebihan produksi limbah sawit dan menunjukkan daya dukung lahan yang masih terbuka untuk menambah populasi
sapi potong jika diintegrasikan dengan sawit. Selain itu keuntungan lain yang dapat digunakan adalah kotoran sapi yang dihasilkan dapatdimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman sawit, baik limbah padatnya maupun cairnya.

Jika rata-rata bobot badan sapi potong adalah 225 kg, maka pakan yang diperlukan adalah  dari bobot badan yaitu 9 kg (bahan kering). Dengan mempertimbangkan pakan pelepah yang digunakan hanya50% dari total pakan lengkap (feed complete), maka kebutuhan pelepah adalah 4,5 kg BK atau 11,25 kg bobot basah. Dengan perhitungan tersebut, maka daya dukung kebun sawit 1 Hektar untuk 1 Ekor  pada komposisi tanaman muda (4-8 tahun) dan tanamanremaja (9-12 tahun), sementara pada tanaman dewasa (13-20 tahun)dapat mensuplai 2 ekor.

Pakan Lengkap

Pemanfaatan pelepah sawit sebagai pakan sapi potongharus memperoleh perlakuan diantaranya memperkecil ukuran partikel pelepah (sehalus mungkin)
sehingga seluruh bagian pelepah (tanpa kecuali ) dapat dikonsumsi/dimanfaatkan tanpa mengganggu kesehatannya. Alat/mesin yang mampu memperkecil ukuran
partikel pelepah sawit hingga halus (ukuran 0,5-1 cm), sementara ini, adalah mesin “chooper” dan pengaduk buatan PPKS Medan. Berikut adalah proses pembuatan
pakan komplit berbasis pelepah sawit :
1.  Memperkecil ukuran partikel ukuran pelepah dengan cara dichooper (dirajang
atau dipotong, dihaluskan).
2.  Dicampur bahan pakan lain (terutama sumber konsentrat), seperti dedak padi
atau pollard, bungkil inti sawit, molases, garam, urea, serta multi vitamin dan
mineral.
3.  Diaduk merata hingga homogen.
4.  Diberikan kepada ternak (sapi potong), baik dalam bentuk segar maupun
diproses terlebih dahulu menggunakan teknologi silase.

Tabel 4. Formulasi Pakan Lengkap (Complete Feed) berdasarkan Bahan Kering (BK)

tabel3

Nilai nutrisi pakan lengkap untuk penggemukan (komposisi bahan Tabel 4), sebagai berikut : 89,72% bahan kering, 15,28% protein kasar, 4,44% lemak kasar,
22,77% serat kasar, 14,27% mineral, dan 66,16% TDN.Nutrisi pakan lengkap tersebut mampu meningkatkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) antara 1,2 – 1,4 kg/ekor/hari.
Berikut beberapa bangsa/rumpun sapi potong yang pernah diberi pakan lengkap
dan hasil PBBH-nya :
1.  Sapi ongole : 0,67 kg/ekor/hari.
2.  Sapi brahman : 0,62 kg/ekor/hari.
3.  Brangus : 0,64 kg/ekor/hari.
4.  Madras : 0,46 kg/ekor/hari.
5.  Brahman Cross : 1,16 kg/ekor/hari.

Kesimpulan

Daya dukung kebun kelapa sawit 1 hektar untuk 1 ekor sapi potong dewasa pada komposisi tanaman muda (4-8 tahun) dan remaja  (9-12 tahun), sementara
pada tanaman dewasa (13-20 tahun) dapat mensuplai 2ekor. Kerapatan pohon kelapa sawit sebanyak 130-145 pohon/Ha. Penggunaan  pelepahnya adalah 50%
untuk mulsa di kebun dan 50% untuk bahan pakan. Bobot basahnya 3,5-10 kg/ pelepah. Maka dalam 1 hektar kebun kelapa sawit menghasilkan 22,75 kg/hari
pelepah basah, atau setara dengan 1,64 ton/Ha/tahunpelepah kering. Nutrisi pelepah sawit : protein kasar 6,50-12,40%,  serat kasar 32,55%, lemak
kasar 4,47-4,76%, bahan kering 93,40-96,87% dan TDN56,00%, serta ligin 27,6% dan kecernaan invitro kurang dari 50%. Komposisi pakan komplit (complete feed) untuk program penggemukan sapi potong terdiri dari : pelepah 45-60%, bungkil inti  sawit 30-40%, dedak padi 5-10%, molases 4-6%, garam 1%, urea 1%, dan laktat mineral(0,025%). Pakan komplit ini bernutrisi : bahan kering 89,72%, protein kasar 15,28%, lemak kasar 4,44%, serat kasar 22,77%, mineral 14,27%, dan TDN 66,16%; yang mampu  meningkatkan PBBH sapi potong 1,2-1,4 kg/ekor/hari, dengan porsi 3,3 kg/ekor/hari (kering) atau 9,2 kg/ekor/ hari (basah).

Referensi

Fakultas Pertanian. 2000. Analisis Proksimat Pelepah Kelapa Sawit. Laboratorium
Nutrisi dan Makanan Ternak, Departemen Peternakan,  Fakultas Pertanian,
Universiras Sumatera Utara, Medan.

Hassan and Ishida, M.. 1992. Effect of Urea Treatmeant Level On Nutritive Value of Oil
Palm Fronds Silage In Kedah Kelantan Bulls. Animal Science Congress, Bangkok.
Jafar, M. D. dan Hasan. 1990. Optimum Steaming Condition of Oil Palm Press Fiber for
Feed Utilization Processing And Utilition of Oil Palm By Product For Ruminant,
Mardi-Tarc Collaborative Study, Kuala Lumpur.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). 2013. PotensiPelepah Sawit sebagai Pakan
Ternak Sapi Potong. PPKS, Medan.

 


Penyakit Malleus disebabkan oleh bakteri  Pseudomonas mallei .Bakteri ini adalah bakteri gram negatif,berbentuk batang,aerobik,bergerak dan tidak berspora.Penyakit ini yang umumnya sering terjadi pada kuda dan dapat dityularkan kemanusia atau sebaliknya (penyakit zoonosis). Gejala klinisnya yaitu demam (41˚ C),keluar nasal discharge (ingus) yang kental dari hidung .Ditemukan nodul dan ulcus di hidung paru-paru sehingga mengganggu pernapasan.Pada kulit nodul-nodul berada disepanjang pembuluh lymphe Penyakit dapat menimbulkan kematian .Pada kuda dapat terjadi secara khronis.    Pencegahan penyebaran penyakit  dapat dilakukan dengan memusnahkan hewan tersangka serta isolasi dan menyemprotkan desinfektan pada area yang tercemar.Pengobatan dengan antibiotik kurang efektif.Sulfadiazine dengan dosis 66mg/kg berat badan diberikan secara intra vena aau oral selama 20 hari dapat menyembuhkan penyakit ini.

     Memelihara ikan hias sudah menjadi hobi masyarakat kita khusus untuk ikan Arwana memerlukan pakan yang kusus yang hidup yaitu diantaranya yang dikenal masyarakat dengan nama ulat Jerman ,ulat Hongkong.Ulat –ulat ini sebenarnya peka sekali terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Sp. Gejala klinis pada ulat(larva) Superworm adalah warna coklat cerah (Tanda sehat) berubah menjadi lebih gelap kemudian hitam.Ulat(Larva) yang mula –mula lincah bergerak menjadi kurang lincah kemudian tidak bergerak (mati). Apabila ulat tersebut sudahada  terjangkit sebaiknya ulat ulat tersebut dimusnahkan karena sifanya yang zoonosis.untuk pencegahan pada ulat dapat diberikan

Obat sulfa atau antibiotik dengan mecampurnya kedalam pakan larva/kumbang tersebut (polar atau dedak) dengan dosis untuk Sulfa 1gr/kg pakan(polar atau dedak) ,untuk Doxycicline dengan dosis 2gr/kg pakan ,Chlortetracycline  dengan dosis 1gr/kg pakan Disamping itu harus diterapkan tindak biosekuriti yang ketat pada peternakan  ulat Superworm.

Kata kunci:Penyakit Malleus,zoonosis Larva Zoophobas morio

I. Pendahuluan.

     Pendapatan  masyarakat Indonesia semakin meningkat  setiap tahunnya sehingga kebutuhan sekunder merupakan keharusan dalam kehidupan sehari-hari,bahkan “mengkudeta” keinginan kita yang lainnya  .Hal tersebut antara lain memelihara hewan kesayangan apakah itu anjing ,kucing bahkan hewan atau satwa yang nampak aneh seperti bermacam- macam reptil dan juga berbagai jenis ikan yang dipelihara dalam aquarium,semuanya membutuhkan tidak sedikit uang.Namun demikian pengetahuan mereka tentang satwa masih terbatas apalagi penyakit yang mungkin dibawa poleh satwa tersebut.Dengan kurangnya pengetahuan mereka ini maka merupakan  peluang untuk beramal  bagi insan pertanian baik Penyuluh Pertanian maupun Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner.

II.Penyakit Malleus.

     Penyakit Malleus atau Glanders atau Farcy disebabkan oleh bakteri  Pseudomonas mallei .Bakteri ini adalah bakteri gram negatif,berbentuk batang,aerobik,bergerak dan tidak berspora.

    Penyakit ini sering ditemui pada kuda dan juga menyerang hewan berkuku lainnya,,canivora dan penularannya melalui sentuhan dan saluran pernapasan.Penyakit ini juga menyerang manusia (zoonosis)

    Gejala klinisnya yaitu demam (41˚ C),keluar nasal discharge (ingus) yang kental dari hidung .Ditemukan nodul dan ulcus di hidung paru-paru sehingga mengganggu pernapasan.Pada kulit nodul-nodul berada disepanjang pembuluh lymphe .Penyakit dapat menimbulkan kematian .Pada kuda dapat terjadi secara khronis.

    Pencegahan penyebaran penyakit  dapat dilakukan dengan memusnahkan hewan tersangka serta isolasi dan menyemprotkan desinfektan pada area yang tercemar.Pengobatan dengan antibiotik kurang efektif.Sulfadiazine dengan dosis 66mg/kg berat badan diberikan secara intra vena aau oral selama 20 hari dapat menyembuhkan penyakit ini (Siegmund ,Otto H. 1979).

Skema cara kerja obat sulfa:

 

PABA                Dyhidrofolic Acid             Tetrahydrofolic Acid                 Purin               DNA

 

      Sulfonamide                               DAP

     (Menghambat )                       (Menghambat ) 

 

    Bakteri berkembang biak melalui pembelahan diri,untuk itu memerlukan bahan makanan yang disebut PABA (Para Amino Benzoic Acid).PABA diubah oleh bakteri menjadi Dyhidropfolic Acid dan kemudian menjadi Tetrahydrofolic Acid kemudian diubah lagi menjadi Purin.Purin untuk DNA protein bakteri yang dibutuhkan untuk membelah(memperbanyak) diri.Kelompok Sulfonamide daya kerjanya menghambat perubahan PABAmenjadi Dyhidrofolic Acid. DAP daya kerjanya menghambat perubahan Dyhidrofolic Acid menjadi Tetrahydrofolic Acid. Sulfonamid dan DAP daya kerjanya bacteriostatic (menghambat Sulfonamide dan DAP digabung daya kerjanya menjadi bacteriocide (membunuh ) bakteri Apabila kelompok sulfonamide (Sulfadiazine,Sulfadimidine,Sulfaquinoxaline digabung dengan kelompok sulfa yang lainnya yaitu Diaminopyrimidin (DAP) yaitu Trimetroprim,Diaverdin,Pyrimethamin maka dapat membunuh bakteri.tersebut (Mariana dan Setiabudy 2005)

III.  Penyakit Malleus dapat berada diruang tamu anda.

       Memelihara ikan hias sudah menjadi hobi masyarakat kita khusus untuk ikan Arwana memerlukan pakan yang kusus yang hidup yaitu diantaranya yang dikenal masyarakat dengan nama ulat Jerman ,ulat Hongkong.Ulat –ulat ini sebenarnya peka sekali terhadap penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas Sp.

     Berawal dari Penulis yang akan membuat penelitian untuk orasi ilmiah ,kebetulan disekitar tempat tinggal Penulis ada peternak ulat Jerman  tersebut dan terkena wabah penyakit dengan tingkat kematian yag tinggi sekali.Kasus ini Penulis angkat menjadi bahan penelitian untuk orasi ilmiah,Pertama –tama .Untuk mengetahui penyebab penyakit maka u- lat yang sakit dikirim ke Balai Besar Penelitian Veteriner untuk dketahui penyebab penyakit tersebut.Hasilnya diketemukan bakteri Pseudomonas Sp yaitu Pseudomonas aeruginosa,Pseudomonas pseudomallei,Pseudomonas mallei  .

   Ulat yang diteliti ini oleh masyarakat kita disebut ulat Jerman sebenarnya adalah ulat yang berasal dari benua Amerika dan dikenal dengan ulat Superworm,jadi bukan dari Jerman Ulat ini sebenarnya adalah larva dari kumbang Zophobas morio.Klasifikasi kumbang  sbb: Phylum: Arthropoda.Ordo:Coleoptera. Class:Insecta,Family:Tenebremidae. Genus Zophobas .Species :Zophobas morio

Siklus hidup  Zophobas morio.

                                                               Telur

                  Kumbang Dewasa                          

                                                                                    Larva

                   Kumbang Muda                    Pupa

             

Kumbang dewasa bertelur, setelah 12 hari telur menetas menjadi larva mini , larva Kecil,larva medium kemudian menjadi larva besar. Larva besar menjadi pupa.Umur larva mulai dari yang kecil sampai dengan larva besar sekitar 2,5 bulan. Larva besar 2 minggu kemudian berubah menjadi pupa. Pupa 2 minggu kemudian  berubah  menjadi kumbang muda (warna putih ). Kumbang muda 2 hari kemudian menjadi kumbang dewasa (warnanya hitam).

1

 

Atas: Larva Superworm . Tengah: Pupa  . Bawah: Kumbang dewasa

 

Gejala klinis pada ulat(larva) Superworm adalah warna coklat cerah (Tanda sehat) berubah menjadi lebih gelap kemudian hitam.Ulat(Larva) yang mula –mula lincah bergerak menjadi kurang lincah kemudian tidak bergerak (mati).2

Larva Superworm yang sakit

 

    Dalam penelitian Penulis dilakukan perlakuan pengobatan dengan obat sulfa ( Campuran antara Sulfadiazine dan Trimethoprim) dengan dosis 1igr/kg pakan ,antibiotik Doxycicline dengan dosis 2 gram /kg pakan ,antibiotik Chlortetracycline dengan dosis 1 gram/kg pakan.Pakan yang digunakan ialah polar kemudian untuk minumnya diberikan pepaya muda .Larav dan kumbang akan meghisap cairandari pepaya muda tersebut.Dari hasil penelitian tersebut ternyata obat kelompok Sulfa lebih baik dari kedua antibiotik tersebut sedangkan antara kedua antibiotik tersebut tidak berbeda hasilnya (Racangan penelitian adalah RAL dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil atau The least Significant Difference)..

 

    Larva Superworm yang sakit patut diduga oleh Pseudomonas mallei. Aquarium yang ada diruang tamu anda kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri Pseudomonas mallei bila ikan Arwana /hias  diberikan pakan dengan larva Superworm yang sakit .

 

IV.Penutup.

 

    Berdasarkan hasil Penelitian tersebut sebenarnya penyakit pada larva Superworm yang disebakan oleh Pseudomosnas Sp tersebut dapat diobati dengan Sulfa maupun antibiotik namun adanya Pseudomonas mallei yang zoonosis(menular kemanusia maka disarankan larva yang sakit tersebut dimusnahkan saja. Obat sulfa atau antibiotik dapat digunakan untuk pencegahan dengan mecampurnya kedalam pakan larva/kumbang tersebut (polaratau dedak) dengan dosis untuk Sulfa 1gr/kg pakan(polar atau dedak) ,untuk Doxycicline dengan dosis 2gr/kg pakan ,Chlortetracycline  dengan dosis 1gr/kg pakan .Disamping itu harus diterapkan tindak biosekuriti yang ketat pada peternakan  ulat Superworm.

 

V. Daftar pustaka.

 

Ganiswara,Sulistia G. Setiabudy,Rianto editor.2005 .Farmakologi Dan Terapi.Edisi 4.Jakarta          Bagian FamakologiFakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

Hidayat,Jusuf.2010.Kajian Keefektifan Antibiotik(Doxycicline dan Chlortetracicline)dan Sulfa   (gabungan Sulfadiazine dengan Trimethoprim) terhadap persembuhan infeksi Pseudomonas mallei dan pseudomonas picketii pada larva Superworm.Bogor :BBPKH Cinagara

 

Siegmund,Otto H,editor.1979.The Merck Veterinary Manual.fifth ed.Rahway,N.J.USA: Merck and Co Inc





 

      Penyakit Anthrax adalah penyakit endemis di Republik Indonesia beberpa kejadian yang dianggap luarbiasa yaitu penyakit Anthrax pada burung unta di kabupaten Purwakarta .sedangkan khusu di kabupatem Bogor beberapa tahun yang lalu sering terjadi kasus penyakit anthrax dikecamatan Gunung putri  ,Cariu ,Jonggol ,Sentul.

      Gejala yang khas penyakit anhtrax adalah perdarahan pada lubang kumlah (alami) seperti lubang hidung ,mulut anus,telinga dan alat kelamin.Gejala penyakit pada hewan/ternak ada dalam beberapa bentuk yang antara lain perakut,akut ,khronis. Gejala perakut nampak ternak/hewan sesak nafas,gemetar kemudian rebah dan mati. Kematian terkesan mendadak  karena ada perdarahan pada otak.Gejala perakut pada ternak sapi,kambing, domba dapat terjadi mendadak mati tanpa adanya gejala tersebut.Anthrax bentuk akut pada sapi,kuda,domba gejalanya mula demam bisa sampai 41,5 ˚C ,gelisah,depresi,sopor.sulit bernafas,denyut jantung frekuen(meningkat) dan lemah,kejang kemudian mati,khusus pada kuda ada gejala kolik,pada ternak yang laktasi akan berhenti dan pada yang bunting akan abortus selain itu ada gejala perdarahan dari lubang kumlah.Gejala yang khronis sering pada babi dengan gejala bengkak didaerah leher/tenggorokan, adanya infeksi sekitar lidah.

           Penyakit anthrax di kecamatan  Gunung putri  ,Cariu ,Jonggol ,Sentul Kabupaten Bogor dikatakan aneh karena apabila diadakan pencegahan dengan vaksinasi sering terjadi gejala post vaksinal yaitu ternak  berputar –putar lalu mati ,sedangkan untukm kecamatann yang lain bila divaksinasi dengan vaksin yang sama tidak pernah terjadi gejala post vaksinal tersebut. Untuk menanggulangi /mengobati gejala post vaksinal  Petugas dinas menyuntikan obat antihistamin misanya Deladryl).Untuk mencegah terjadinya gejala post vaksinal maka vaksinasi deberikan hanya setengah dosis(0,5 ml disuntikan Sc ) ,namun kekebalanya hanya sampai setengah tahun saja.dampak pemberian dosis setenga dari seharusnya maka sering terjadi kasus penyakit anyhrax di Kecamatan tersebut .Sekarang Dinas Peternakan kabupaten Bogor melakukan vaksinasi 2 x dengan dosis 0,5 ml dikecamatan tersebut sehingga kekebalandapat mencapai satu tahun.sekarang tidak pernah terjadilagi kasus anthrax dikecamatan tersebut.Gejala post vaksinal tersebut kemungkinan karena reaksi allergi bersifat individual akibat Inbreeding (perkawinan sedarah )

     Kata kunci:Penyakit Anthrax ,gejala post vaksinal   

I.Pendahuluan

      Kabupaten Bogor terletak di Provinsi Jawa Barat 60 Km kearah timur  dari Ibukota Jakarta.Kabupaten Bogor merupakan daerah endemis penyakit Anthraxhampir tiap tahun timbul kasus ini dan cukup memakan korban  manusia namun  beberapa tahun terakhir  ini sudah tidak terdengar lagi kasus penyakit ini . Selain itu pada awal bulan Agustus 1999 terjadi kematian burung unta dikecamatan Campaka Purwakarta yang juga merupakan daerah endemik penyaki Anthrax.Sumber penularan diduga dari tanah untuk daerah endemik ,kareana penyakit anthrax dapat bertahan selama 30 tahun dalam bentuk spora didalam tanah(Elies Lasmini 2001). Ada daerah lain di Indonesia yang juga dilaporkan adanya penyakit Anhtrax .

Dari beberapa daerah yang penulis ketahui hanya kabupaten Bogor yang penulis anggap aneh dalam penanggulangnnya.Oleh karena itu penulis harapkan adanya tanggapan dari rekan - rekan sejawat mengenai kasus ini.

II.Penyakit Anthrax

     Sebagaimana kita ketahui penyakit anthrax yang dikenal juga dengan nama Fievre Charbonneuse (bahasa Pernacis), Carbunco Bacteridiano (bhs Spanyol) , Milzbrand (bhs jerman) ,radang limpa (bhs Indonesia). Pernah populer di Cibinong (kab.Bogor ) sekitar tahun limapuluhan dengan nama Pesdar yang artinya kempes modar yang maksudnya apabila bisul anthrax kempes maka orang yang menderitanya modar(mati)

       Penyakit Antrax adalah penyakit bakterial yang disebabkan Bacilus anthracis  ,bakteri yang berbentuk batang berantai ,gram positif (dengan pewarnaan gam berwarna ungu/violet),bakteri diluar habitatnya (hostnya) berbentuk spora sehingga dapat bertahan hidup lama.

      Penularan penyakit ini tidak lazim langsung dari satu hewan kepada hewan yang lain,biasanya bakteri anthrax jatuh ketanah (yang versifat alkalis )maka bakteri anthrax akan membentuk spora  dan apabila termakan olah ternak /hewan makan akan berupah sebagai bakteri semula.Spora dapat tersebar melalui angin,air,pengolahan tanah.Didaerah dapat disebarkan melalui gigitan lalat Tabanus . Penularan melalui pakan atau peroral arena memakan bahan bahan yang terkontaminasi bakteri tersebut.Penularan pada manusia juga terjadi melalui oral dan kontak langsung atau sentuhan pada kulit hal ini pernah terjadi pada seorang staf laboratorium bakteriologi  BPPV Maros ,sedangkan yang terinfeksi melalui pernapasan  biasanya pada pekerja penyortir bulu domba. Penularan peroral pada manusia biasanya terjadi karena memakan daging yang berasal dari ternak penderita anthrax.

     Gejala penyakit pada hewan/ternak ada dalam beberapa bentuk yang antara lain perakut,akut ,khronis. Gejala perakut nampak ternak/hewan sesak nafas,gemetar kemudian rebah dan mati. Kematian terkesan mendadak  karena ada perdarahan pada otak.Gejala perakut pada ternak sapi,kambing, domba dapat terjadi mendadak mati tanpa adanya gejala tersebut.Anthrax bentuk akut pada sapi,kuda,domba gejalanya mula demam bisa sampai 41,5 ˚C ,gelisah,depresi,sopor.sulit bernafas,denyut jantung frekuen(meningkat) dan lemah,kejang kemudian mati,khusus pada kuda ada gejala kolik,pada ternak yang laktasi akan berhenti dan pada yang bunting akan abortus selain itu ada gejala perdarahan dari lubang kumlah.Gejala yang khronis sering pada babi dengan gejala bengkak didaerah leher/tenggorokan, adanya infeksi sekitar lidah.

Pencegahan dapat dilakukan degan vaksinasi  dengan vaksin aktif strain 34 F2 yang dapat digunakan olah semua hewan denan kekebalan elama satu tahun. Dosis yang diberikan untuk hewa besar 1 ml disuntikan Sub cutan sedang untuk hewan kecil 0,5 ml disuntikan Sub cutan.(Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan 1978)

      Hal yang aneh Penulis temui sekitar tahun 1985 pada waktu itu Penulis bertugas membawa Peserta pelatihan Paramedis Veteriner praktek lapang  dikecamatan Gunung Putri,Jonggol,Cariu. Sebelum ketempat tujuan praktek lapang Rombongan Peserta mendapat arahan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Bogor.Pengarahan diberikan dikantor Dinas pada waktu masih DiSindang Barang oleh drh Ishak Dirja selaku kepala seksi keswan(sekarang sudah almarhum jabatan terakhir Kepala Dinas Kabupaten Indramayu). Beliau mengarahkan agar vaksinasi untuk kecamatan Gunung Putri,Sentul,Jonggol dan Cariu diberikan tidak dengan dosis penuh melainkan setengahnya,karena apabila vaksin diberikan dosis sepenuhnya (sesuai  aturan) maka akan terjadi gejala post vaksinal yaitu ternak bergerak berputar putar untuk menanggulangi gejala post vaksinal bisa diberikan injeksi antihistamin (Deladryl,Vetadryl dll).Sedangkan untuk kecamatan lainnya termasuk dikantor Penulis kebetulan ada seratusan ternak sapi bila divaksin oleh Dinas Peternakan kab. Bogor dengan dosis penuh 1ml dan tidak pernah ada gejala post vaksial satu ekor pun.Pada praktek lapang tersebut ada seorang Peserta pelatihan yang mengabaikan arahan dari Dinas karena pengalamannya menggunakan vaksin yang sama (Vaksin produksi dalam negeri) tidak pernah terjadi gejala post vaksinal ,sehingga Dia mengajak beberapa temannya sesama peserta untuk memberikan dosis penuh.Akibat mengabaikan arahan maka terjadilah gejala post vaksinal pada sekor kerbau dan beberpa ekor kambing dan menimbulkan kematian pada kerbau karena  terlambat diberikan antihistamin.

Kasus tersebut pernah Penulis diskusikan dengan kepala BBPPV drh Isep Sulaiman almarhum sewaktu berkunjung kekantornya .Penulisn katakan bahwa kasus tersebut terjadi karena kemungkinan inbreeding,karena gejala post vaksinal adalah reaksi allergi dan reaksi allergi biasanya pada manusia kebanyakan karena faktor keturunan.Perlu diketahui bahwa kecamatan Jonggol dan Cariu dan sekitarnya merupakan daerah proyek pengenalan IB pertama kali dikabupaten Bogor dan sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang pertambahan ternak yang ada berdasarkan kawin antar ternak yang ada ditempat tersebut atau dengan kata lain terjadi “perkawinan saudara.”.Pendapat  tersebut menurut drh Isep Sulaeman alm dapat dibenarkan.

III.Penutup.

     Penyakit Anthrax adalah penyakit berbahaya bagi ternak maupun manusia (penyakit zoonosis).Walaupun dapat diobati denan antibiotik seperti penicillin G dengan dosis 6000-20.000 IU/kg berat badan secara IM. untuk hewan besar dan 20.000-40.000 IU/kg berat badan secara IM .Pemberian antiserum sekitar 20-30 ml untuk hewan besar dan 20-30 ml untuk hewan keci.Penyuntikan antiserum yg homolog diberikan secara IV atau SC sedang heterolog diberikan secara SC.,namun yang terpenting adalah pencegahan melalui tindakan biosekuriti yang baik dan vaksinasi.

Dinas Peternakan Kabupaten Bogor sekarang melakukan vaksinasi khusus untuk “Kasus  yang aneh” tersebut dilakukan vaksinasi 2x dengan dosis tetap separuh dosis dan kekebalannya dapat mecapai (selama) satu tahun.

Khusus untuk vaksinasi hendaknya petugas yang masih baru atau yunior hendaklah mau bertanya kepada yang lebih dahulu bertugas ditempat tersebut atau yang lebih senior, yang sudah berpengalaman sehingga gejala post vaksinal dapat ditangani dengan baik dan tidak menelan korban.

Kiranya demikian Pengalaman penulis dalam menemukan hal yang aneh pada kasus penyakit anthrax dikabupaten Bogor dan tak lupa marilah kita panjatkan Doa untuk rekan sejawat drh Ishak Dirja  alm dan drh Isep Sulaeman alm semoga Allah SWT menerima amal baiknya dan dedikasinya sebagai Dokter hewan yang mengabdi pada mayarakat Peternakan Indonesia,Amin.

IV. Daftar Pustaka.

Anonimus,1978.Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular Jilid I.Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan 

Lasmini Elies.2001.Studi Kasus Burung Unta Dan Manusia Di Kabupaten Purwakarta.Bogor :Studi Kesehatan Masyarakat Veteriner.

ABSTRAK

      Keberadaan peternakan sapi di Indonesia memang diperlukan sebagai sumber protein bangsa ini ,namun dampak negatifnya harus dihilangkan atau minimal dikurangi .Untuk itu perlunya pengetahuan dan teknologi dalam beternak sapi. Keberadaan peternakan sapi dapat berdampak negatif sbb:

Produksi gas metana yng berlebihan oleh ternak sapi tersebut sehingga terbentuknya efek rumah kaca dan global warming yang meningkat.Untuk menanggulanginya maka perlunya tindakan manajemen yang baik dalam beternak sapi seperti pemberian hijauan pakan ternak yang daya cernanya tinggi,pemberian kombinasi antara hijauan dengan leguminosa,pemberian suplemen pakan ternak berupa biji-bijian dan pengolahan hijauan pakan ternak dalam bentuk silase,pemberian makanan tambahan seperti mineral

Pencemaran tanah oleh adanya pupuk kandang yang berlebihan.Kadar N dalam tanaman didalam tubuh ternak akan diubah menjadi nitrat/nitrit sehingga apabila terakumulasi dalam jumlah banyak didalam tubuh akan menimbulkan keracunan dengan gejala sesak nafas,selaput lendir berwarna biru ,tekanan darah tendah hal ini karena Hb yang seharusnya mengikat oksigen didalam darah tetapi terikat olen nitrit.Oleh karena pemupukan dengan pupuk kandang tidak boleh lebih dari 20 ton /th/ acre.(1 Hektar =2,4711 acre).

Pencemaran lingkungan oleh pembuangan air  susu kesungai dapat mencemari lingkungan tersebut (merusak sumber air baku irigasi ,bau busuk ) karena jumlah air sungainya tidak cukup banyak.Oleh karena itu harus diperhatikan antara lain : Dari pada dibuang airsusu diolah untuk pakan ternak,kalau terpaksa dibuang dilakukan dahulu aerasi (pemberian oksigen),perhitungkan jumlah air sungai harus cukup mengandung oksigenyaitu setiap pembuangan 0,,5 liter  air susu diperlukan 7,5 ppm oksigen yang setara dengan jumlah air sebanyak 6400  liter.

Kata kunci:Pencemaran lingkungan,peternakan sapi

I.PENDAHULAN.

    Dibeberapa kota diIndonesia ada terdapat peternakan sapi perah yang sudah ada sejak puluhan tahun  yang lalu dan dikelola secara turun temurun.Kini peternakan itu harus menyingkir kepinggiran kota bahkan ada yang ditutup .

Bahaya apakah gerangan sehingga limbah peternakan dirasakan dapat mengganggu lingkungan ?

Kita ketahui bahwa limbah dari peternakan yang terutama adalah kotorannya yaitu fecesnya,disamping itu juga produknya seperti susu bila dibuang sembarangan.Untuk memenuhi swasembada daging sejak tahun 2002 populasi sapi potong ditingkatkan 47,8 % sampai th 2012 dengan ratan peningkatan  4,3 % .Adapun dampak lingkungnnya antara lain adalah peningkatan emisi gas metan yang berdampak pada rumah kaca dan dan diperkirakan akan terus menaik.Hewan ruminasia dapat menghasikan gas metana melalui proses methanogenesis.selain efek rumah kaca dampak yang lain yanitu kadar N yang berlebihan serta dari produk  susu yang dibuang sembarangan. 

II.DAMPAK DARI GAS METANA.

    Gas  metana berasal dari  sistem pencernaan melalui proses enteric fermentation dan dari pengelolaan kotoran ternak (feces).Dari ruminansia sapi menyumbang gas metana terbesar dibandingkan dengan kambing dan domba.Dampak dihasilkannya gas metana adalah terbentuknya rumah kaca dan terjadi global warming yang meningkat.

Solusinya untuk mengurangi gas metana yang diproduksi oleh ternak maka perlu manajemen pakan yang baik.Bahan organik dari tanaman oleh methanogens mikroba didalam tubuh ternak dirubah  menjadi gas metana.Dalam proses pencernaan tersebut akan terbentuk asam lemak terbang (volatile fatty acid) yaitu acetat,propionate dan butirat.Apabila kadar propionat tinggi maka pembetukan gas metana rendah.Untuk menghasilkan gas metana yang rendah maka harus dilakukan rekayasa pakan yang baik sbb:

-Memberikan kulitas hijauan yang baik yaitu yang tingkat kecernaan bahan  organiknya tinggi.(61,5 %) sehingga gas metana yang terbentuk rendah.

-Kombinasi hijauan dengann leguminosa akan meningkatkan kecernaan bahan oganik dan mempercepat liwatnya pakan didalam rumen sehingga  gas metana yang terbentuk rendah.

-Suplementasi rumput(pakan sumber serat ) dengan biji-bijian dapat menurunkan gas metana.

-Pemberian silase sebagai olahan hijauan  dapat juga menurunkan gas metana.

-Pemberian pakan additif seperti mineral dapat juga menurunkan produksi  gas metana (Y Widiawati ,B Tiesnamurti). 

III.PENCEMARAN TANAH  OLEH PUPUK KANDANG

     Penggunaan pupuk kandang umumnya sudah populer dikalangan Petani kita,tetapi mereka belum mengetahui akibatnya apabila penanganannya salah.Lingkungan yang dapat dikotori /dicemari oleh pupuk kandang antara lain Sumber air minum /air baku ( air sumur,air danau,air sungai) ,udara yang dicemari oleh  bau busuk,tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang yang melebihi doisisnya. Untuk menghindari pencemaran maka perlu dilakukan tindakan sbb:

-Untuk menghindari pencemaran sumber air maka pembuangan kotoran sapi  sebaiknya jauh atau minimal 30 meter dari sumber air tersebut.

-Untuk menghindari bau busuk jangan membuang kotoran sapi kesungai, apalagi yang alirannya lambat  .Tempat pembuangan sebaiknya dicampur atau ditutup dengan tanah.Pembuangan sebaiknya jangan sewaktu hujan dan sewaktu angin kencang sehingga bau akan menyebar kemana-mana.

-Penggunaan pupuk kandang bagi petani dilahan pertanian sebaiknya diberikan pengairan dan dibiarkan  sebulan agar terjadi penguraian kotoran (pupuk kandang ) tersebut .Dosis atau takaran harus tepat.

Dampak penggunaan pupuk kandang yang berlebihan .

Tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang yang berlebihan akan mengandung kadar nitrat yng tinggi dan tanaman atau rumput yang ditanam akan mengadung nitrat yang tinggi juga .Apabila tanaman atau rumput tersebut dimakan oleh ternak  maka dapat terjadi keracunan .Nitrat didalam tubuh ternak oleh mikrobak dirubah menjadi nitrit yang kemudian mengikat Hb (Haemoglobin) didarah merah  sehingga darah merah tidak dapat mengikat  atau membawa oxygen keseluruh tubuh untuk proses oksidasi dialam tubuh.Gejala yang terlihat ternak sesak nafas, selaput lendirnya biru,tekanan darahnya rendah,jantung melemah dan  mati setelah 3-4 jam keracunan.Pada ternak yang sedang bunting dapat terjadi abortus.Sedang apabila dosis agak rendah maka dapat terjadi infertlitas pada ternak betina. Untuk menghindari hal tersebut maka pemupukan tidak boleh melebihi 20 ton/th/ acre.(1 Hektar =2,4711 acre).

IV.PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH PEMBUANGAN AIR SUSU.

    Kita pernah dikejutkan dengan demonstrasi (aksi) membuang air susu kesungai oleh koperasi susu ditanah air karena harga susu rendah.

Pembuangan air susu kesungai tanpa memperhitungkan dampak lingkungannya sangatlah berbahaya bagi kesehatan ditempat pebuangan.Air susu mengandung zat protein ,lemak.,mineral dsb.Zat tersebut didalam air dihydrolisa dan dioksidasi oleh oxygen didalam air sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan hewan air untuk keperluan hidupnya.

Apakah dampaknya apabila jumlah oksigen.didalam air tidak cukup ?

Maka akan terjadi reaksi anaerob (tanpa oksigen),zat- zat tersebut setelah dihydrolisa akan difermentasi  sehingga terbentuk zat ammonia,H2S, Co2 ,metana dll.    Zat tersebut menyebabkan derajat keasaman merendah ,casein mengendap kemudian timbul bau busuk sehinga air tidak dapat dipakai sebagai sumber air baku,air irigasi dan ikanpun dapat mati. Bagaimana cara pencegahannya atau penanggulangannya ? Untuk mencegah dampak negatif dari pembuangan air susu maka perlu diperhatikan Hal –hal sbb :

- Dari pada air susu dibuang maka lebih baik diolah menjadi pakan ternak.

-Seandainya tidakmungkin maka air susu yang akan dibuang diendapkan didalam tangki lalu dioksidasi (diaerasi) sebelum dibuang.

-Apabila hendak dibuang langsung kedalam sungai (air) harus diperhitungkan jumlah oksigen didalam air. Untuk membuang airsusu 0,5 liter diperlukan 7,5ppm oksigen. Untuk 7,5 ppm oksigen ada pada air sebanyak 6400 liter. Berapa banyak air diperlukan apabila membuang air susu 1 mobil tangki  ?                             (Indrawati Rumawas).

V.PENUTUP

     Keberadaan peternakan sapi memang diperlukan bagai ketersedianan bahan makanan sumber protein bagi bangsa ini.Untuk menghindari dampak negatifnya maka perlunya teknologi atau pengetahuan yang mengawalnya dan untuk itu diperlukan sumber daya manusia dibidang peternakan yang akhli.Hasil hasil kajian para akhli hendaknya diaplikasikan kepeternak sehingga mereka dapat ikut mengurangi dampak negatif dari peternakan sapi.

 

VI. DAFTAR PUSTAKA.

Rumawas ,Indrawati.1977.Kesehatan Masyarakat Veteriner.Bogor: IPB

Stoskopf ,Neal C.1981.Understanding Cropproduction .Reston Virginia :Reston Publishing Company.Inc

Widiawati Y,Tiesnamurti B.2012.Pengolahan pakan sebagai salah satu  strategi  untuk mitigasi gas rumah kaca dari ternak ruminansia.Potensi bahan pakan lokal untuk menurunkan gas metana ternak ruminansia.hal1-22.

halaman 1 dari 14