Senin, 19 Maret 2012 15:20

Teknik Diagnosa Penyakit Flu Babi ( H1N1 )

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Pada awal tahun 2009 publik dunia dikejutkan oleh kemunculan suatu epidemik penyakit saluran pernafasan pada manusia yang diduga sumber penularannya berasal dari ternak babi di Meksiko. Penyakit tersebut telah menyebabkan kematian pada beberapa penduduk lokal yang pernah kontak dengan babi. Penyakit tersebut terutama menyerang anak-anak atau orang muda. Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi penyebab penyakit tersebut yaitu virus Influenza subtipe H1N1.

Virus influenza H1N1 diduga ditularkan dari babi ke manusia (zoonosis) sehingga orang-orang menyebutnya sebagai flu babi atau swine flu. Virus ini memiliki sifat penularan yang sangat cepat sehingga dalam waktu beberapa bulan mampu menyebar hampir di seluruh negara-negara di Amerika diantaranya Amerika Serikat, Kanada bahkan Brazil. Situasi ini mendorong WHO untuk meningkatkan alarm menjadi level 5. Walaupun kasus penularan penyakit flu dari babi ke manusia masih dipertanyakan kejadiannya, namun hal ini telah menjadi perhatian publik di Indonesia, yang sebelumnya pernah terjadi epidemik serupa oleh virus flu burung atau H5N1.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu masuknya agen penyakit ke dalam suatu negara, yaitu kurang ketatnya sistem pengawasan lalu lintas hewan atau produk asal hewan yang keluar atau masuk dari suatu negara ke negara lainnya, adanya penyeludupan (smuggling) dan juga rendahnya kesadaran masyarakat (public awareness) terhadap suatu hal yang dapat meningkatkan resiko masuknya agen penyakit seperti membawa barang yang berpotensi mengandung agen penyakit tanpa melalui proses pemeriksaan maupun tanpa dokumen yang tidak lengkap. Balai Karantina Hewan Pertanian, adalah salah satu lembaga pemerintahan yang menjalankan proses pengawasan dan pemeriksaan terhadap lalu lintas hewan dan produk asal hewan, memegang peranan penting dalam pencegahan penularan dan terjadinya wabah (outbreak) dari virus H1N1.

Peranan tersebut dijalankan salah satunya melalui proses pemeriksaan terhadap hewan yang masuk terhadap kemungkinan terjangkitnya virus flu babi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi surat keterangan hewan sehat yang dikeluarkan dokter hewan yang berwenang dari negara asal hewan, pemeriksaaan klinis secara umum yang dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium jika hewan yang diperiksa menunjukkan gejala klinis penderita flu babi.

Pemeriksaan laboratorium terhadap hewan yang dicurigai terjangkit virus H1N1 harus dilakukan dengan perlindungan yang memadai karena sifat virus tersebut yang sangat mudah menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Sampel yang diambil dapat berupa usapan dengan menggunakan kapas pengulas (cotton swab) pada daerah hidung, tenggorokan, rektum/anus atau dengan pengambilan serum darah. Sampel ditaruh dalam media khusus dan kemudian disimpan dalam pendingin sebelum dilakukan pemeriksaan.

Setelah dilakukan pengambilan sampel terhadap hewan yang masuk, dilakukan pemeriksaan untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus H1N1. Di dunia kedokteran hewan, ada beberapa macam cara untuk mendeteksi virus H1N1 diantaranya adalah dengan metode isolasi virus, metode serologis dan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Metode isolasi virus yang sering digunakan adalah dengan menggunakan sel hidup. Sample darah yang didapat dari hewan yang di uji ditanamkan ke dalam sel dan dikembangkan dalam suatu wadah (plate) yang kemudian diwarnai dan diidentifikasi di bawah mikroskop. Keunggulan dari metode ini adalah selain dapat mengidentifikasi dengan tepat, juga dapat mengisolasi virus dari hewan jika terbukti positif mengandung virus H1N1. Namun metode ini memiliki kelemahan diantaranya membutuhkan tenaga yang sangat terlatih dikarenakan prosesnya yang harus steril, biaya yang sangat besar untuk pengadaan alat-alat dan bahan serta waktu yang lama (minimal 15 hari) dalam mendeteksi virus.

Ada beberapa metode serologis yang dapat digunakan dalam pendeteksian virus H1N1. Metode yang umum digunakan adalah dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Prinsip dari uji ini adalah mengetahui adanya ikatan zat kebal (antibodi) yang terdapat dalam serum darah hewan yang diperiksa dengan zat penginfeksi (antigen) dari virus. Adanya ikatan antigen dan antibodi akan dibaca oleh mesin ELISA. Karena mekanisme itulah uji ini memiliki keunggulan dalam menghitung jumlah virus yang menyerang hewan, sehingga dapat diketahui tingkat keparahan dari penyakit. Kelemahan dari uji ini adalah kurang sensitif dalam menentukan serotipe dari virus flu karena sering terjadi reaksi silang antar antibodi dari setiap serotipe dari virus flu. Selain itu dibutuhkan kit khusus untuk tiap serotipe yang harganya sangat mahal dan jarang dijual di Indonesia.

Metode yang paling banyak digunakan dalam mendeteksi suatu penyakit adalah dengan PCR. Uji ini sangat sensitif dalam mendeteksi virus, spesifik dalam menentukan serotipe dari virus dan tidak mengkonsumsi biaya yang besar dan waktu yang lama. Selain digunakan dalam laboratorium diagnostik, PCR juga banyak digunakan dalam lembaga penelitian dan pengembangan di bidang mikrobiologik, genetik, epidemiologi, klinik dan forensik serta di rumah sakit. Hal ini juga disebabkan oleh pengaplikasiannya yang mudah, karena hanya membutuhkan beberapa zat pereaksi, mesin yang mudah dioperasikan serta metode kerja yang singkat.

Untuk memudahkan pemahaman mengenai cara kerja PCR maka kita harus memaparkan sebelumnya mengenai virus, dalam hal ini adalah virus influenza H1N1. Virus adalah partikel infeksius yang tidak mampu melakukan reproduksi sendiri. Virus membutuhkan sel inang agar dapat melakukan reproduksi, dengan cara menginfeksi sel inang. Sifat virus yang mudah menginfeksi tersebut terkandung dalam suatu materi genetik yang disebut asam riboksinukleat (RNA), yang terdapat dalam inti sel dan bertanggung jawab atas sifat infeksi, tingkat keparahan infeksi, daya hidup virus dan lain sebagainya. Sementara itu, prinsip utama dari PCR adalah memperbanyak (amplifikasi) potongan materi genetik asam deoksiribonukleat (DNA) menjadi jutaan potongan dengan menggunakan bantuan enzim sehingga mudah untuk dideteksi jenisnya. Karena jenis materi genetik dari virus adalah RNA maka sebelumnya dilakukan dulu proses pembalikan dari RNA menjadi DNA sebelum dilakukan proses amplifikasi. Proses pembalikan ini dapat dilakukan dalam satu reaksi bersama proses amplifikasi di dalam mesin thermal cycler, sehingga proses ini dinamakan reverse transcriptase PCR.

PCR disebut sebagai metode deteksi yang paling sensitif, karena dengan hanya sedikit sampel sudah dapat mendeteksi penyakit. Dengan hanya 200 mikroliter sampel serum darah hewan sudah cukup untuk mendeteksi ada atau tidaknya agen penyakit. Sementara itu salah satu bahan yang digunakan dalam uji yang berperan dalam membuat PCR menjadi uji yang paling sensitif adalah adanya penggunaan primer. Primer adalah DNA buatan yang digunakan untuk memicu terjadinya amplifikasi DNA, sehingga hanya spesifik untuk uji tertentu. Sebagai contoh, kita hendak melakukan pendeteksian terhadap virus flu babi maka yang harus kita gunakan adalah primer spesifik flu babi. Jika dalam sampel hewan terdapat virus flu babi maka primer tersebut hanya akan menempel pada DNA virus flu babi sehingga yang teramplifikasi menjadi jutaan copy hanyalah DNA virus flu babi.

Selain itu, dengan PCR kita dapat menjalankan banyak sampel sekaligus dalam satu waktu sehingga sangat menghemat waktu dan biaya. Kemudahan aplikasi dan waktu pendeteksian yang cepat inilah yang menjadi keunggulan utama dari proses PCR.

Ibarat peribahasa, tak ada gading yang tak retak, maka proses ini juga memiliki kelemahan diantaranya adalah harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian karena menggunakan beberapa zat kimia yang berbahaya serta reagen yang digunakan cukup mahal. Namun kelemahan tersebut tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kegunaannya yang sangat luas. Karena itu sangat tepat jika pendeteksian virus H1N1 pada hewan-hewan yang melalui lalu lintas Karantina Hewan dilakukan dengan metode PCR, karena dengan pengaplikasian PCR sebagai alat deteksi yang cepat, sensitif, spesifik dan tidak terlalu mahal, akan meminimalisasi kemungkinan masuknya virus flu babi ke Indonesia.

Read 48024 times